Opini post authorKiwi 16 Januari 2026

Ancaman Terhadap Wajah Sosial Dalam Budaya Viral Media Sosial

Photo of Ancaman Terhadap Wajah Sosial Dalam Budaya Viral Media Sosial

Oleh: Meniwati, S.S., M. Hum. Dosen Politeknik Negeri Sambas, Pengamat Budaya

Sambas,SP- Media sosial telah menjelma menjadi ruang publik utama dalam kehidupan sosial Masyarakat sehari-hari.

Dengan adanya tawaran untuk mendapatkan penghasilan dari sana, maka masyarakat berlomba-lomba untuk terkenal di sosial media.

Di ruang ini, berbagai persoalan dipertontonkan kepada khalayak luas, tidak hanya masalah sosial bahkan persoalan yang lebih privat.

Salah satu praktik pengguna sosial media yang kian menguat adalah memviralkan orang lain, yakni mengunggah identitas, perilaku, atau kesalahan individu tertentu dengan narasi yang cenderung menghakimi.

Praktik ini seolah-olah disengaja untuk memicu konflik berkepanjangan agar menjadi viral.
Setiap individu memiliki face atau muka, yaitu citra diri yang ingin dihargai dan dilindungi ketika berinteraksi sosial, termasuk interkasi sosial. Face terbagi menjadi dua, yakni Positif Face (keinginan untuk dihargai dan diterima) dan Negative Face (keinginan untuk tidak diganggu atau dipaksa).

Fenomena tersebut bisa dijelaskan dengan teori Kesopanan Berbahasa atau Politeness Theory yang dikemukakan Brown dan Levinson. Memviralkan orang lain pada dasarnya merupakan bentuk face-threatening act, yakni tindak tutur yang mengancam citra diri seseorang.

Ancaman ini menjadi semakin serius ketika dilakukan di media sosial karena bersifat terbuka, permanen, dan dapat disebarluaskan tanpa kendali.

Gaya bahasa yang digunakan dalam unggahan viral sering kali tidak hanya mengkritik tindakan, tetapi juga menyerang identitas dan harga diri individu yang menjadi sasaran.

Dalam teori Kesopanan, penutur sebenarnya memiliki pilihan strategi untuk meminimalkan ancaman terhadap citra diri seseorang, yakni strategi kesopanan positif yaitu berupaya membangun kedekatan dan empati, dan strategi kesopanan negatif yang bertujuan menghormati ruang pribadi lawan bicara. Namun, dalam praktik bermedia sosial, kedua strategi ini sering diabaikan.
Sebaliknya, banyak unggahan viral menggunakan strategi bald on record, yaitu penyampaian pesan secara langsung tanpa mitigasi kesopanan. Strategi ini mungkin efektif untuk menarik perhatian publik, tetapi memiliki konsekuensi pragmatik yang besar.

Ketika individu dipermalukan di ruang publik digital, respons yang muncul cenderung emosional, defensif, atau agresif. Konflik pun meningkat, bukan hanya antara pihak yang terlibat langsung, tetapi juga meluas ke pengguna lain.

Aspek lain yang memperparah situasi adalah karakter media sosial sebagai ruang publik semu. Pengguna sering merasa berbicara kepada layar, bukan kepada manusia nyata dengan citra diri dan perasaan. Akibatnya, sensitivitas terhadap ancaman citra diri menjadi rendah.

Bahasa yang mungkin dianggap “wajar” di kolom komentar dapat berubah menjadi bentuk perundungan ketika dikonsumsi oleh ribuan orang.

Kritik tidak harus disampaikan dengan mengorbankan kesopanan. Kita seharusnya mempertimbangkan batasan-batasan, penjelasan argumentatif, dan fokus pada tindakan, bukan pribadi tertentu sehingga dapat mengurangi ancaman citra diri. Kritik tetap sampai, tetapi konflik bisa terminimalisir.

Masalah memviralkan orang lain juga menunjukkan lemahnya literasi kesopanan digital. Literasi digital sering dipahami sebatas kemampuan menggunakan teknologi dan memilah informasi. Sementara itu, kesadaran akan dampak pragmatik bahasa di ruang publik digital masih kurang mendapat perhatian. Padahal, setiap unggahan memiliki konsekuensi sosial yang nyata.

Kesopanan bukan berarti meniadakan kritik atau menutup kesalahan. Namun, kritik yang mengabaikan prinsip kesopanan berpotensi melahirkan ketidakadilan baru melalui penghakiman massal. Dalam banyak kasus, individu yang diviralkan kehilangan kesempatan untuk menjelaskan konteks dan mempertahankan citra dirinya.
Oleh karena itu, membangun ruang media sosial yang sehat memerlukan kesadaran berbahasa yang lebih reflektif, dan pemahaman tentang literasi digital.

Sebelum memviralkan orang lain, pengguna media sosial perlu mempertimbangkan dampak ancaman citra diri yang ditimbulkan. Di tengah budaya viral yang semakin dominan, kesopanan berbahasa justru menjadi kunci untuk menjaga media sosial sebagai ruang dialog, bukan arena penghukuman.

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda