PONTIANAK, SP - Keindahan alam Kabupaten Kapuas Hulu kembali menjadi perhatian, bahkan memantik kesan mendalam bagi Mgr. Dr. Samuel Oton Sidin OFM Cap, Uskup Sintang, yang menyebut wilayah tersebut sebagai salah satu kawasan dengan pesona hutan tropis terbaik di Kalimantan Barat.
Kawasan konservasi seperti Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) dan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) menjadi bagian dari pengalaman spiritual sekaligus ekologis yang membekas dalam perjalanan pastoralnya.
“Pernah tiga hari berturut-turut menelusuri hutan belantara, bermalam di alam terbuka,” kenang Mgr. Samuel, yang juga pernah melintasi jalur hutan dari Kecamatan Mentebah menuju Desa Kepala Jungai, Kecamatan Ambalau.
Perjalanan panjang tersebut tidak hanya menjadi pengalaman fisik, tetapi juga refleksi mendalam tentang relasi manusia dan alam, termasuk ketika harus bermalam di tengah hutan dan mencari ikan di sungai berair jernih untuk kebutuhan konsumsi bersama rombongan.
Rumah Pelangi dan Jejak Ekologi Kapusin
Kisah kecintaan terhadap alam ini juga terhubung dengan karya ekologis yang lebih luas di Kalimantan Barat, khususnya di kawasan Rumah Pelangi, Dusun Binuah, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya.
Di lokasi inilah pernah dilakukan transformasi lahan tandus menjadi kawasan hijau seluas sekitar 100 hektar yang dikelola Ordo Fratrum Minorum Capuccinorum (OFM Cap) atau Kapusin Pontianak.
Dalam catatan sejarahnya, Mgr. Samuel Oton Sidin OFM Cap yang pernah menerima Penghargaan Kalpataru dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 5 Juni 2012, dikenal atas komitmennya dalam pelestarian lingkungan dan pemberdayaan alam.
Karya ekologis tersebut turut berkelindan dengan peran para imam dan biarawan Kapusin lainnya, termasuk Bruder Stephanus Paiman OFM Cap, yang dikenal aktif dalam kegiatan sosial, kemanusiaan, dan lingkungan di Kalimantan Barat.
Kolaborasi Kemanusiaan dan Alam Bersama FRKP West Borneo Vespa Lovers
Bruder Stephanus Paiman OFM Cap yang juga Ketua Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP) sekaligus Pendiri dan Penasehat FRKP West Borneo Vespa Lovers, dikenal konsisten menggerakkan komunitas Vespa dalam aksi sosial dan pelestarian lingkungan.
Komunitas ini mengusung visi “Satu Vespa Sejuta Saudara”, yang tidak hanya diwujudkan melalui touring lintas wilayah Kalimantan Barat, Sarawak, Sabah, hingga Brunei Darussalam, tetapi juga melalui kegiatan nyata seperti penanaman pohon dan edukasi lingkungan.
Salah satu kegiatan yang tercatat adalah aksi penanaman pohon di kawasan Rumah Pelangi pada 2019, di mana puluhan scooterist FRKP menanam bibit pohon buah seperti matoa dan srikaya merah di lahan rehabilitasi.
Dalam kesempatan tersebut, Bruder Stephanus menegaskan pentingnya gerakan nyata pelestarian alam.
“Jika bisa, kita buat dalam skala besar dengan perencanaan matang. Mari menanam, jangan hanya menebang,” ujarnya.
Spirit yang Menyatukan Alam, Iman, dan Komunitas
Kolaborasi nilai yang dibangun antara karya ekologis Gereja Katolik, komunitas Vespa, dan gerakan sosial FRKP menunjukkan satu benang merah: kepedulian terhadap alam sebagai rumah bersama.
Bagi Mgr. Samuel Oton Sidin OFM Cap, pengalaman menyusuri hutan Kapuas Hulu hingga interaksi dengan masyarakat pedalaman menjadi pengingat bahwa alam bukan sekadar ruang hidup, tetapi juga ruang spiritualitas.
Sementara itu, bagi Bruder Stephanus Paiman OFM Cap, Vespa bukan hanya kendaraan, melainkan medium persaudaraan dan penggerak aksi kemanusiaan.
Dari Rumah Pelangi hingga Kapuas Hulu, dari jalanan konvoi Vespa hingga jalur hutan belantara, keduanya bertemu dalam satu visi yang sama: menjaga alam, merawat kehidupan, dan memperkuat solidaritas kemanusiaan di Bumi Khatulistiwa. (mul)