PONTIANAK, SP - Puluhan buah pepaya berwarna hijau kekuningan menggantung di batang-batang yang menjulang hampir tiga meter. Di sela-selanya, Dandan Petrus memeriksa satu per satu buah yang siap dipanen pagi itu.
Pagi itu, matahari baru saja naik di ufuk timur ketika Pak Dandan dan para petani di Kelurahan Siantan Hulu, Kecamatan Pontianak Utara, mulai memasuki lahan perkebunan mereka.
Di antara deretan batang pepaya yang tumbuh rapi, aktivitas dimulai sejak dini hari. Ada yang membersihkan gulma, memeriksa batang tanaman, hingga memilih buah yang siap dipanen dengan tingkat kematangan terbaik.
Dari kebun pepaya Siantan Hulu lahir rantai ekonomi yang menghidupi petani hingga pengrajin dodol. Petani pepaya di kawasan ini tidak hanya menjaga produksi, tetapi juga mempertahankan ruang hijau dan ekonomi pertanian di tengah pesatnya perkembangan Kota Pontianak.
Bagi masyarakat Siantan Hulu, pepaya bukan sekadar buah. Komoditas hortikultura ini telah menjadi harapan baru yang menopang ekonomi keluarga sekaligus menjaga denyut pertanian Kota Pontianak tetap hidup.
Di lahan-lahan yang dahulu didominasi tanaman lain, kini pohon pepaya tumbuh subur dan menjadi pemandangan khas Pontianak Utara.
Permintaan pasar yang terus meningkat membuat banyak petani mulai serius mengembangkan budidaya pepaya, terutama varietas California yang dikenal manis, berukuran ideal, dan memiliki masa panen berkelanjutan.
Dari karya alam ini, pada Dandan Petrus, sebagai koordinator Kelompok Tani Pepaya Siantan Hulu, bersama para petani lainnya, setiap hari memastikan kualitas buah pepaya Pontianak tetap terjaga agar layak konsumsi dan sampai ke tangan masyarakat dalam kondisi segar.
“Setiap hari kami harus mengecek tanaman, menjaga kebersihan kebun, dan memilih buah yang benar-benar siap panen. Kalau kualitas dijaga, pembeli pasti kembali,” ujar Dandan Petrus.
Dari lahan kota yang kian terdesak pembangunan, Dandan memilih bertahan dengan kebun pepaya yang ia kelola. Ia tidak hanya menjaga tanaman, tetapi juga menghidupi sejumlah keluarga petani yang menggantungkan hidup dari hasil kebun tersebut.
Menurutnya, menjaga kualitas pepaya bukan pekerjaan mudah. Cuaca yang berubah-ubah, ancaman hama, hingga kondisi lahan menjadi tantangan yang harus dihadapi petani setiap hari.
Dan, kerja keras tersebut terbayar ketika hasil panen mampu memenuhi kebutuhan pasar lokal dan memberikan penghasilan yang stabil bagi keluarga petani.
“Dulu masyarakat lebih banyak menanam komoditas lain. Sekarang pepaya justru menjadi harapan baru petani karena hasilnya lebih cepat dan pasarnya jelas,” katanya.
Perubahan pola tanam di Siantan Hulu tidak terjadi begitu saja. Dukungan dari BRI melalui pembinaan dan akses permodalan menjadi salah satu faktor penting yang membantu petani berani mengembangkan usaha hortikultura.
Melalui pendampingan mantri BRI, para petani mendapatkan akses pembiayaan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan program Kredit Cepat (KECE) untuk pengembangan lahan, pembelian bibit unggul, hingga perawatan tanaman.
Pendampingan tersebut memberi dampak nyata. Banyak petani yang sebelumnya hanya mengelola lahan kecil kini mampu memperluas area tanam dan meningkatkan hasil panen. Omzet petani pun perlahan meningkat seiring tingginya kebutuhan pasar terhadap buah pepaya segar.
Di balik buah pepaya yang tersusun rapi di pasar-pasar Pontianak, ada kerja panjang para petani yang dimulai sejak pemilihan bibit.
Bibit unggul biasanya berasal dari buah matang di pohon dengan bentuk lonjong atau hermaprodit agar menghasilkan buah berkualitas baik.
Benih kemudian disemai dalam polibag kecil menggunakan campuran tanah dan pupuk kandang sebelum dipindahkan ke lahan tanam.
Lahan perkebunan juga harus dipersiapkan dengan baik. Petani membuat parit drainase agar tanaman tidak tergenang air karena pepaya sangat sensitif terhadap kelembapan berlebih.
Setelah itu, bibit ditanam dengan jarak tertentu agar pertumbuhan akar dan batang lebih optimal.
Dalam masa perawatan, para petani rutin memberikan pupuk, melakukan penyiraman, serta mengendalikan hama dan penyakit tanaman.
Hama seperti kutu trip yang menyebabkan daun keriting menjadi ancaman utama.
Karena itu, petani harus teliti memeriksa kondisi tanaman setiap hari agar kualitas buah tetap terjaga.
Kerja keras itu membuahkan hasil ketika pepaya mulai memasuki masa panen. Umumnya tanaman mulai berbuah pada usia sekitar delapan hingga sembilan bulan.
Buah yang siap dipanen biasanya masih berwarna hijau, namun telah muncul semburat kuning pada bagian kulitnya.
Selain memiliki nilai ekonomi tinggi, pepaya juga dikenal kaya manfaat kesehatan.
Buah ini mengandung enzim papain yang baik untuk pencernaan, vitamin C untuk meningkatkan daya tahan tubuh, serta likopen yang bermanfaat menjaga kesehatan jantung.
Bagi para petani Siantan Hulu, menjaga kualitas pepaya berarti menjaga kepercayaan pasar sekaligus mempertahankan nama baik hasil pertanian Pontianak. Karena itu, mereka tidak pernah berhenti merawat kebun dengan penuh ketelatenan.
“Kalau dirawat dengan baik, pepaya bisa panen rutin dan hasilnya membantu ekonomi keluarga petani. Kami berharap pertanian di Siantan Hulu semakin maju dan anak-anak muda juga tertarik bertani,” tutur Dandan Petrus.
Di Pontianak, pepaya tidak hanya dikonsumsi sebagai buah segar. Komoditas ini juga diolah menjadi berbagai produk makanan khas, salah satunya dodol pepaya yang sudah lama menjadi camilan favorit dan oleh-oleh khas Kota Pontianak.
Teksturnya yang legit dengan rasa manis alami membuat dodol pepaya banyak dicari wisatawan yang berkunjung ke Kalimantan Barat.
Salah satu pengrajin dodol pepaya di Pontianak, Rossi Indiyani, mengaku dirinya rutin menggunakan pepaya hasil panen dari Poktan Pepaya Siantan Hulu sebagai bahan baku utama produksi dodol.
Menurutnya, kualitas pepaya dari kawasan tersebut sangat baik dan memiliki cita rasa yang khas.
“Pepaya dari Siantan Hulu kualitasnya bagus, daging buahnya tebal dan manis. Itu yang membuat hasil dodol lebih enak dan disukai pelanggan,” ujar Rossi Indiyani.
Ia mengatakan, menjaga kualitas bahan baku menjadi hal penting dalam pembuatan dodol pepaya.
Karena itu, dirinya memilih bekerja sama dengan petani yang benar-benar memperhatikan proses budidaya dan kualitas panen.
“Kalau buahnya bagus, hasil olahannya juga pasti bagus. Petani di Siantan Hulu sangat teliti merawat tanaman mereka,” tambahnya.
Kini, di tengah perkembangan Kota Pontianak yang terus bergerak maju, lahan-lahan pertanian di Siantan Hulu tetap menjadi denyut kehidupan masyarakat.
Dari kebun-kebun pepaya itulah para petani menjaga harapan, merawat kualitas, dan menghadirkan buah segar terbaik untuk masyarakat Kalimantan Barat, sekaligus mendukung lahirnya produk olahan khas daerah yang dikenal hingga luar kota. (aep mulyanto)