Universitas OSO kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di wilayah pesisir Kalimantan Barat (Kalbar).
Melalui kehadiran sebagai narasumber dalam Sosialisasi Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Pulau Randayan di Desa Pulau Lemukutan, perguruan tinggi tersebut menghadirkan hasil riset ilmiah yang diharapkan menjadi fondasi pengelolaan kawasan konservasi sekaligus pengembangan wisata bahari berbasis lingkungan.
Kegiatan yang diselenggarakan UPT Pengelola Kawasan Konservasi di Perairan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalbar itu dipimpin Kepala UPT, Erli. Hadir pula Kepala Desa Pulau Lemukutan Ahmad Yusuf, kelompok sadar wisata (Pokdarwis), kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas), penyuluh perikanan, serta tokoh masyarakat.
Dalam forum tersebut, Ketua Program Studi Ilmu Kelautan Universitas OSO, Zan Zibar, memaparkan hasil penelitian mengenai kondisi ekosistem terumbu karang Pulau Lemukutan yang dilakukan sepanjang 2024.
Penelitian tersebut mengintegrasikan data habitat bentik menggunakan citra satelit dan survei lapangan sehingga menghasilkan peta spasial interaktif berbasis WebGIS. Teknologi ini dinilai mampu menjadi instrumen penting dalam mendukung pengelolaan kawasan konservasi secara lebih akurat dan berkelanjutan.
“Hasil penelitian menunjukkan tutupan karang hidup mencapai 60,7 persen, karang mati 22,9 persen, dan batuan 19,5 persen. Artinya, kondisi ekosistem terumbu karang di Pulau Lemukutan masih tergolong baik dan harus terus dijaga,” jelas Zan Zibar.
Menurutnya, pemanfaatan WebGIS merupakan bagian dari konsep Smart Island, yakni pengelolaan pulau berbasis data dan teknologi digital yang dapat dimanfaatkan pemerintah, akademisi maupun masyarakat dalam menjaga kelestarian ekosistem pesisir.
“Smart Island melalui WebGIS menjadi langkah nyata dalam mendukung pengelolaan ekosistem pesisir sekaligus sebagai media edukasi bagi masyarakat,” ujarnya.
Namun demikian, Universitas OSO juga mengingatkan bahwa masih terdapat sejumlah titik terumbu karang yang membutuhkan perhatian khusus. Untuk kawasan dengan kategori rusak maupun sedang, diperlukan langkah rehabilitasi melalui metode transplantasi karang.
“Transplantasi karang menjadi solusi untuk meningkatkan kembali tutupan karang menuju kategori baik bahkan sangat baik sehingga fungsi ekologisnya dapat kembali optimal,” katanya.
Tak hanya berbicara soal konservasi, Universitas OSO juga menawarkan pendekatan yang menghubungkan aspek lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Zan Zibar mengusulkan penyelenggaraan Pekan Transplantasi Karang yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, hingga sektor industri sebagai bentuk kolaborasi multipihak.
Menurutnya, program tersebut tidak hanya mempercepat pemulihan ekosistem laut, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui wisata konservasi.
“Kegiatan transplantasi karang dapat menjadi agenda kolaboratif sehingga tidak hanya efektif dalam rehabilitasi ekosistem, tetapi juga mampu melahirkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat pesisir,” ungkapnya.
Ia juga memperkenalkan konsep adopsi karang, di mana wisatawan dapat berpartisipasi langsung dalam upaya pelestarian lingkungan melalui pembiayaan maupun penanaman karang.
Skema tersebut dinilai mampu memperkuat citra Pulau Lemukutan sebagai destinasi wisata yang tidak hanya menawarkan keindahan bawah laut, tetapi juga mengajak wisatawan ikut menjaga kelestariannya.
Gagasan Universitas OSO mendapat sambutan positif dari masyarakat setempat.
Perwakilan masyarakat, Afriandi, menilai keterlibatan warga dalam program transplantasi karang sangat penting agar pemulihan ekosistem berjalan optimal dan mampu meningkatkan populasi ikan di sekitar kawasan konservasi.
Sementara itu, Novriansyah menyebut konsep wisata konservasi yang dipaparkan Universitas OSO berpotensi menjadi daya tarik baru bagi Pulau Lemukutan.
“Program adopsi karang bisa menjadi ikon wisata baru. Wisatawan tidak hanya menikmati keindahan bawah laut, tetapi juga ikut berkontribusi menjaga ekosistem sekaligus membuka peluang ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Kepala Desa Pulau Lemukutan Ahmad Yusuf turut mengapresiasi kontribusi Universitas OSO dalam menghadirkan hasil riset yang dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan pengelolaan kawasan pesisir.
Ia menilai pengembangan wisata bahari harus dibarengi dengan penataan kawasan secara menyeluruh, termasuk pengaturan tata ruang dan bangunan agar tetap nyaman bagi wisatawan tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
“Terumbu karang merupakan daya tarik utama Pulau Lemukutan. Hampir seluruh wisatawan datang untuk snorkeling menikmati keindahan bawah laut. Karena itu, konservasi harus menjadi prioritas agar pariwisata tetap berkelanjutan,” katanya.
Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan Universitas OSO, Pulau Lemukutan diharapkan mampu berkembang menjadi contoh pengelolaan kawasan pesisir berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan partisipasi masyarakat, sekaligus menjadi model Smart Island di Kalimantan Barat. (din)