Ponticity post author elgiants 11 Agustus 2026

RSUD Soedarso Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Lonjakan Kasus Pernapasan, Antisipasi Dampak Karhutla

Photo of RSUD Soedarso Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Lonjakan Kasus Pernapasan, Antisipasi Dampak Karhutla SIAP SIAGA - RSUD dr. Soedarso memperkuat kesiapsiagaan menghadapi lonjakan kasus pneumonia dan penyakit pernapasan akibat paparan asap karhutla.

PONTIANAK, SP - RSUD dr. Soedarso memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi peningkatan penyakit pernapasan, khususnya pneumonia, di tengah paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan Barat (Kalbar).

Direktur RSUD dr. Soedarso Pontianak, drg. Hary Agung Tjahyadi mengatakan, meski kasus ISPA di rumah sakit relatif stabil dalam lima minggu terakhir, pihaknya tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan lonjakan kasus pneumonia dan gangguan pernapasan lainnya.

Kesiapsiagaan dilakukan dengan memperkuat surveilans epidemiologi klinis sekaligus memastikan ketersediaan oksigen, obat-obatan, peralatan medis hingga kapasitas ruang perawatan.

“Kasus ISPA cukup stabil di RSUD dr. Soedarso dalam lima minggu terakhir, tidak ada peningkatan kasus. Meski secara umum di Kalbar tercatat peningkatan kasus ISPA dalam dua minggu terakhir, kami tetap akan meningkatkan kewaspadaan,” ujarnya kemarin.

RSUD dr. Soedarso sebagai rumah sakit rujukan tertinggi kelas A di Kalbar selama ini lebih banyak menangani pasien yang membutuhkan pelayanan lanjutan. Sementara kasus ISPA ringan umumnya ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama maupun rumah sakit kelas C dan D.

Namun, tren pneumonia di RSUD dr. Soedarso mulai menunjukkan peningkatan. Hingga minggu epidemiologi (ME) 31, kasus pneumonia tercatat meningkat dari 16 kasus pada ME 27 menjadi 29 kasus.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena paparan asap karhutla dapat memperburuk kondisi saluran pernapasan. Partikel halus dalam asap, terutama PM2.5, dapat masuk jauh ke saluran pernapasan, menyebabkan iritasi dan mengganggu mekanisme pertahanan saluran napas.

Paparan asap tidak secara langsung berarti menyebabkan pneumonia. Namun, kondisi tersebut dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap gangguan maupun infeksi saluran pernapasan.

Terlebih pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, penderita asma, serta pasien dengan penyakit paru dan penyakit kronis lainnya.

Hary mengatakan, rumah sakit memastikan kesiapan pelayanan apabila terjadi peningkatan pasien dengan gangguan pernapasan, terutama pasien pneumonia dengan kondisi sedang hingga berat.

Di Instalasi Gawat Darurat (IGD), pasien dengan keluhan pernapasan akan menjalani triase secara cepat untuk mengidentifikasi gangguan oksigenasi dan menentukan kebutuhan penanganan.

Stabilisasi oksigenasi, terapi inhalasi maupun nebulisasi akan diberikan sesuai indikasi dan kondisi klinis pasien.

“Kami tetap akan meningkatkan kewaspadaan melalui monitoring surveilans epidemiologi klinis RS dan kesiapan terkait ketersediaan oksigen dan obat-obatan apabila terjadi rujukan terhadap infeksi pernapasan yang berlanjut dan pneumonia,” jelasnya.

Selain oksigen medis dan obat-obatan esensial untuk pneumonia, rumah sakit juga memastikan ketersediaan bronkodilator, nebulizer, hingga alat bantu napas. Kesiapan peralatan akan terus dipantau mulai dari kanul oksigen hingga ventilator apabila dibutuhkan untuk menangani pasien dengan gangguan pernapasan berat.

Kapasitas ruang perawatan paru dan ruang isolasi respirasi juga menjadi bagian dari kesiapsiagaan rumah sakit.

Hingga ME 31, Hary mengatakan belum diperlukan penambahan tempat tidur karena kasus masih dapat ditangani dengan kapasitas yang tersedia. Namun, kondisi tersebut akan terus dievaluasi mengikuti perkembangan kasus.

“Belum diperlukan penambahan tempat tidur karena kasus masih dapat tertangani dengan baik. Namun, kapasitas perlu dievaluasi secara berkala apabila terjadi peningkatan kasus lebih lanjut,” katanya.

Selain memastikan kesiapan pelayanan, RSUD dr. Soedarso juga memperkuat pemantauan terhadap tren penyakit pernapasan.

Tim surveilans akan menganalisis karakteristik pasien pneumonia untuk mengetahui faktor yang berperan, termasuk kemungkinan keterkaitan dengan riwayat ISPA, eksaserbasi asma, paparan asap, penyakit penyerta maupun penyebab infeksi lainnya.

Menurut Hary, langkah tersebut penting agar peningkatan pneumonia tidak langsung dikaitkan hanya dengan paparan asap, tetapi tetap berdasarkan analisis klinis dan epidemiologis.

Secara keseluruhan, data Kalbar hingga ME 31 menunjukkan peningkatan ISPA dari 5.269 menjadi 5.837 kasus. Sementara pneumonia meningkat dari 202 menjadi 250 kasus.

“Tim surveilans perlu melakukan analisis secara berkesinambungan dan lebih mendalam untuk memastikan apakah pneumonia berkaitan dengan ISPA sebelumnya, eksaserbasi asma, paparan asap, komorbid, atau etiologi infeksi lain,” ungkapnya.

Hary menegaskan, rumah sakit tidak ingin menunggu hingga terjadi lonjakan kasus baru kemudian melakukan persiapan. Pemantauan tren, kesiapan tenaga medis, oksigen, obat-obatan, alat bantu napas, ruang perawatan dan IGD terus dilakukan sebagai langkah antisipasi.

Dengan kesiapan tersebut, RSUD dr. Soedarso diharapkan mampu merespons secara cepat apabila terjadi peningkatan pasien dengan pneumonia maupun penyakit pernapasan lainnya akibat kondisi kualitas udara yang memburuk. (din)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda