Sambas post authorelgiants 27 Maret 2019

Jembatan Asam dan Batu Ditutup

Photo of Jembatan Asam dan Batu Ditutup MACET – Seroang petugas kepolisian lalu lintas mengatur kendaraan yang melintas di Jembatan Batu, Sambas, belum lama ini. Upaya tersebut untuk mengurangi kemacetan di jembatan bekas peninggalan Belanda.
SAMBAS, SP - Bupati Sambas, Atbah Romin Suhaili menegaskan, kendaraan roda enam sudah tidak boleh lagi melintas di dua jembatan di dalam Kota Sambas, yakni Jembatan Asam dan Geretak Batu. Pasalnya kedua jembatan tersebut merupakan peninggalan sejarah yang mesti dijaga kelestariannya.

"Semangatnya tutup total untuk roda enam, dan ini akan saya bicarakan dengan Forkopimda terkait dengan pemasangan portal," kata Atbah, Selasa (26/3).

Dia berharap, maka pemberlakuan larangan melintas bagi kendaraan roda enam akan berlaku adil bagi semua pihak.

"Jadi dengan pemasangan portal maka otomatis tidak ada kendaraan roda enam dan itu adil saya kira, karena kita ingin menjaga heritage kita yakni Jembatan Batu (geratak batu) di Desa Durian dan Jagur, serta Jembatan Asam di Desa Dalam Kaum dan Desa Lubuk Dagang," jelasnya.

Kedua jembatan memiliki nilai historis yang kental, dan akan sangat disayangkan apabila jembatan tersebut rusak akibat kendaraan berat yang melintas.

"Dan ini mungkin satu-satunya peninggalan sejarah yang mesti kita jaga terus, pelihara, perbaiki dan perindah, itu yang kita inginkan. Tetapi sekarang ini baru tahap sosialisasi dan sudah lumayan dipatuhi karena ada yang jaga," ucapnya.

Pelarangan tersebut kelak juga akan dipertegas dengan pembuatan portal, sehingga kendaraan besar secara otomatis tidak bisa menaiki jembatan.

"Kedepannya akan ada tilang, berarti ini menjadi tugas pihak kepolisian, adanya portal maka tidak perlu dijaga lagi seperti sekarang," tegasnya.

Pelarangan tersebut tak hanya berlaku bagi kendaraan perkebunan atau swasta, semua jenis kendaraan roda enam tidak bisa melewati jembatan tanpa terkecuali.

"Ini juga berlaku bagi kendaraan roda enam lainnya seperti truk sampah dan bus sekolah, karena kita juga sudah menyiapkan jalur khusus kendaraan rida enam dan mereka bisa lewat situ, yakni di jalan lingkar dari Desa Rambi ke Kartiasa," tukasnya.

Tokoh Pemuda serta Sarjana Sejarah asal Sambas, Aan mengatakan, Geratak Asam dan Geratak Batu ini adalah sebuah keunikan sejarah di Sambas.

"Diresmikan pada tahun 1941 dengan gaya Belanda dan diarsiteki oleh orang Indonesia, lalu tidak dihancurkan oleh tentara Jepang yang saat itu sedang dalam misi menghancurkan sisa dan simbol Belanda di Sambas," katanya.

Peperangan kala itu, berlangsung antara tentara Jepang dan prajurit Belanda dengan cukup sengit. 90 persen bangunan yang dibuat oleh kolonial Belanda dibom, diratakan dengan tanah, sedangkan 10 persen tersisa adalah dua jembatan besar yang menjadi urat nadi, bahkan objek paling vital kala itu.

"1942, Jepang masuk ke Sambas, mereka membombardir benteng-benteng kecil atau tangsi Belanda tanpa sisa, bangunan-bangunan Belanda dikuasai, sebagian besar dihancurkan, kecuali dua jembatan itu," jelasnya.

Di Sambas, siapa yang tak tahu dan tak bangga akan dua Jembatan dengan bentuk sama persis ini, kokohnya jembatan berusia 76 tahun tersebut, tak goyah dan tak retak meski berat beban yang ditanggungnya semakin lama semakin besar.

"Para tokoh Sambas pada saat itulah yang memegang peran penting, sehingga Geratak Asam dan Geratak Batu terus berdiri tegak hingga detik ini. Para tokoh Sambas kala itu menyampaikan kepada Jepang agar dua bangunan Belanda itu tetap dipertahankan," tuturnya.

Di tengah kebutuhan akan sarana infrastruktur yang memadai untuk mengimbangi perkembangan ekonomi, Aan menyarankan agar dua jembatan itu tetap dipertahankan seperti sedia kala.

"Ada unsur heritage, sejarah, estetika dan fungsi, ini yang mesti kita jaga, ini yang harus dilestarikan dan biarkan dia tetap menjadi bukti bahwa kita pernah dijajah Belanda, silakan bangun jembatan baru, tapi jangan robohkan kedua jembatan ini," tegas dia. (noi/ang)

Upaya Kurangi Macet

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Sambas, Ferry Madagaskar mengatakan, dari pihaknya dan dibantu Satlantas Polres Sambas telah menyampaikan sosialisasi dan melakukan penjagaan di beberapa titik lokasi.

"Keinginan Bupati sangat kita sambut baik, lagipula ini juga merupakan upaya kita untuk mengurangi kemacetan, jembatan itu sudah tua, meskipun tampak masih sangat kokoh, namun volume kendaraan semakin lama semakin tinggi, karena itu juga sering terjadi stuck di area jembatan jika ada dua kendaraan besar melintas," katanya.

Ferry memastikan di tahun 2019 ini, pelarangan roda enam ke atas melintas di dua jembatan terealisasi, dan kemungkinan besar akan dituangkan dalam Perbup ataupun Perda. Semua itu dilakukan guna memberikan rasa aman dan nyaman semua pengguna jalan.

"Kita pastikan pada periode awal 2019 ini akan direalisasikan, pengalihan ini agar masyarakat kita merasa aman dan nyaman saat melewati jembatan dan berkendara ditengah kota," pungkasnya. (noi/ang)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda