SINGKAWANG, SP - Tokoh nasional asal Kalbar, Oesman Sapta Odang (OSO) menghadiri Festival Cap Go Meh 2026 di Kota Singkawang, Selasa (3/3).
OSO menilai perayaan Cap Go Meh yang digelar di Singkawang kali ini sangat meriah. Ia pun memberi apresiasi kepada penyelenggara festival dan Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie.
“Saya baru pertama kali menyaksikan Festival Cap Go Meh semeriah dan seasik ini sejak Walikotanya di pimpin ibu Tjhai Chui Mie,” kata OSO yang juga merupakan Ketua Umum DPP Partai Hanura.
Menurut OSO, perayaan Cap Go Meh merupakan contoh nyata dari keberagaman dan toleransi yang ada di Indonesia.
"Sebagai rakyat Indonesia, maka wajib menjaga toleransi sesuai UUD 1945. Kita harus saling menghormati dan menghargai perbedaan yang ada di masyarakat," kata OSO.
Dia juga mengapresiasi upaya Pemkot Singkawang menjaga kerukunan dan toleransi antar umat beragama.
"Saya lihat, masyarakat Singkawang sangat harmonis dan rukun. Ini adalah contoh yang baik bagi daerah lain di Indonesia," tambahnya.
OSO juga berharap, Festival Cap Go Meh dapat terus menjadi ajang yang mempererat persaudaraan dan toleransi antar umat beragama di Indonesia.
"Kita harus terus menjaga dan meningkatkan toleransi dan kerukunan, agar Indonesia menjadi negara yang lebih maju dan sejahtera," katanya.
Momentum Refleksi
Pembukaan Festival Cap Go Meh di Singkawang dilakukan oleh Wakil Ketua DPR RI, Bambang Wuryanto yang akrab disapa Bambang Pacul.
Pembukaan ditandai dengan pemukulan loku bersama sejumlah Menteri Republik Indonesia, menteri dan tokoh nasional.
“Perayaan Imlek dan Cap Go Meh bukan hanya sebagai pergantian tahun dan penanggalan luna, tetapi juga sebagai momentum refleksi pengembalian diri dan pengukuhan harapan,” katanya.
Turut hadir juga mantan Kepala BIN, Hendro Priyono, Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk Indonesia Mr. Wang Lutong.
Parade tatung ini diikuti sebanyak 734 tatung dengan rincian 258 tatung menggunakan tandu, 109 tatung tanpa tandu, 76 miniatur, 15 jelangkung, 3 naga, 2 barongsai dan 1 rombongan jalan kaki.
Dalam tradisi Tionghoa perayaan Imlek dan Cap Go Meh adalah awal tahun baru untuk menyonsong kesehatan dan harmoni.
Sementara Cap Go Meh yang jatuh pada hari ke-15 setelah Imlek menjadi perayaan simbol terang bulan purnama yang menyinari perjalanan kehidupan.
Festival Cap Go Meh Singkawang yang sudah ditetapkan sebagai salah satu agenda pariwisata yang masuk dalam kalender Kharisma Event Nusantara ini dapat dijadikan sebagai sumber kekuatan persatuan dan kesatuan NKRI.
Etalase Keberagaman
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan, perayaan ini adalah sebagai etalase keberagaman dan harmoni.
Festival Cap Go Meh, kata dia bukan hanya sebuah ekspresi tradisi dan budaya yang bukan hanya baik untuk dijaga dan dirawat, tapi juga sebagai kekuatan persatuan dan kesatuan.
"Dunia saat ini sedang tidak baik-baik saja, tekanan geo politik bahkan perang terjadi yang dapat mengganggu stabilitas kemanan,” kata AHY.
Masyarakat Indonesia, lanjut AHY harus berupaya sekuat tenaga agar Indonesia tetap bisa melanjutkan semangat mewujudkan Indonesia semakin maju dan sejahtera. Menurutnya hal ini selaras dengan tema Imlek 2026 yakni Harmoni Imlek Nusantara.
"Beberapa malam yang lalu kita merayakan perayaan itu di Jakarta, tapi bagi saya pribadi perayaan Imlek di Singkawang sangat spesial karena saya baru pertama kali menyaksikan perayaan Imlek dan Cap Go Meh di Singkawang. Sangat luar biasa," ujarnya.
AHY mengaku baru pertama kali bisa menyaksikan secara langsung Festival Cap Go Meh yang diselenggarakan di Kota Singkawang.
Menurutnya, perayaan ini bukan hanya menampilkan budaya dan tradisi yang khas dan unik saja, tapi juga mengirim pesan kepada siapapun bahwa keberagaman di Indonesia ini adalah sebuah kekuatan yang harus dirawat, harus dijaga apapun suku, agama, etnis, dan ras yang ada di Indonesia.
"Kita harus bersatu dan kita harus ekspresikan ini untuk kemajuan kita bersama, mudah-mudahan dari Singkawang energi positif ini bisa menyebar ke berbagai penjuru tanah air lainnya,” ujarnya.
Termasuk, kata AHY mengirim pesan kepada dunia bahwa menjalani kehidupan perlu ada toleransi untuk menciptakan keharmonisan dan menjaga kedamaian.
“Karena itu adalah modal yang sangat penting untuk pembangunan bangsa yang semakin maju ke depan," ujarnya.
AHY berharap Kota Singkawang dapat menjadi kota yang semakin makin maju, modern dan memilki harkat yang kuat.
"Dan jangan lupa fokus pada pembangunan bangsa, sumber daya manusia yang terus mengangkat pada jati diri bangsa yang kokoh," pesannya.
Semangat Kebersamaan
Walikota Singkawang, Tjhai Chui Mie, mengatakan bahwa Kota Singkawang kembali bersinar dalam harmoni. Perayaan Cap Go Meh Singkawang dibuka dengan semangat kebersamaan dan pelestarian budaya yang luar biasa. Dari ritual keagamaan hingga atraksi seni, semua bersatu dalam satu doa untuk kedamaian dan kesejahteraan.
"Suasana kota penuh dengan bunyi tambur, kibaran bendera, dan atraksi tatung yang memukau. Benar-benar sebuah pengalaman magis yang selalu dirindukan setiap tahunnya oleh semua orang," kata Tjhai Chui Mie.
Dia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta tatung yang telah tampil dengan penuh totalitas.
"Kehadiran kalian bukan sekadar atraksi, melainkan simbol kekuatan iman dan pelestarian budaya yang tak ternilai harganya. Kalianlah yang membuat mata dunia tertuju pada Singkawang," ujarnya.
Tjhai Chui Mie berharap bahwa perayaan Cap Go Meh ini dapat terus menjadi ajang yang mempererat persaudaraan dan toleransi antar umat beragama di Singkawang, serta menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia.
"Kita harus terus menjaga dan meningkatkan kerukunan dan toleransi, agar Singkawang tetap menjadi kota yang damai, sejahtera, dan harmonis," ajaknya.
Wajah Sejati Kalbar
Sementara Gubernur Kalbar, Ria Norsan mengatakan, perayaan Imlek dan Cap.Go Meh ditahun ini terasa sangat istimewa karena bertepatan dengan bulan suci Ramadhan.
"Kita menyaksikan lampion imlek dan Ramadan terpadu dengan semangat dua cahaya dari dua tradisi yang bersinar berdampingan. Inilah wajah sejati Kalimantan Barat," katanya.
Menurutnya, perbedaan tidak menciptakan cara tetapi menghadirkan kekuatan untuk saling menghormati, menjaga dan memperkuat persatuan.
“Festival Cap Go Meh bukan sekadar agenda budaya, melainkan kebanggaan bersama seluruh masyarakat Kalbar dan Indonesia,” kata Norsan.
Sementara parade tatung merupakan warisan budaya yang sangat nilai spritual keberanian dan keyakinan yang diwariskan lintas generasi.
“Momentum perayaan Imlek dan Cap Go Meh ini mari kita jadikan sebagai penguat persatuan," ajaknya.
Kagum dengan Parade Tatung
Pengunjung asal Jakarta mengaku kagum dengan penampilan parade tatung Kota Singkawang, Selasa (3/3).
Seperti yang diungkapkan Renata. Ia mengaku puas dengan atraksi yang ditampilkan dalam festival Cap Go Meh, meski dirinya sudah terhitung tiga kali menyaksikan festival ini.
“Tahun depan saya datang lagi," katanya.
Sementara Elizabeth juga mengaku kagum dengan atraksi tatung Singkawang pada Festival Cap Go Meh.
"Saya baru pertama kali menyaksikan Festival Cap Go Meh di Singkawang, sangat seru," katanya.
Dia berpesan kepada masyarakat Kota Singkawang, agar kerukunan antar umat beragama terus dijaga dan dipertahankan.
"Sehingga keadaannya selalu kondusif dan masyarakat luar mau datang ke Singkawang," pungkasnya. (rud/jee)