MEMPAWAH, SP – Sebuah tonggak sejarah baru dalam industri pertambangan Indonesia terpancang di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat (Kalbar). Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) bersama MIND ID secara resmi melaksanakan ground breaking fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit menjadi alumina dan aluminium yang terintegrasi.
Prosesi groundbreaking dilakukan secara hybrid untuk enam proyek hilirisasi, salah satunya di site PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), Desa Bukit Batu, Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah, Kalbar, pada Jumat (6/2/2026).
Diresmikannya proyek strategis ini mengukuhkan posisi Kalbar sebagai episentrum baru industri aluminium nasional. Dengan total nilai investasi mencapai Rp104,5 triliun (US$ 6,23 miliar), Kalbar bertransformasi dari sekadar penyedia bahan mentah menjadi jantung industri aluminium dunia.
Proyek ini tidak hanya mengolah bauksit menjadi alumina, tetapi langsung memprosesnya menjadi aluminium batangan (ingot) berkualitas tinggi di tanah sendiri.
Kalbar yang menyimpan 57 persen cadangan bauksit nasional, kini berdiri sebagai titik strategis dalam rantai pasok global. Produk yang dihasilkan akan menjadi komponen vital bagi industri masa depan, mulai dari otomotif, konstruksi, hingga industri pertahanan dan teknologi kedirgantaraan (aviasi).
Posisi strategis ini diperkuat dengan infrastruktur Pelabuhan Kijing yang memungkinkan distribusi hasil olahan langsung ke pasar internasional, menjadikan Kalbar sebagai penentu baru dalam pasokan logam strategis abad ke-21.
Danantara Indonesia menargetkan proyek yang digarap oleh anggota MIND ID, PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) ini selesai pada 2028 mendatang.
"Kita harapkan ini akan selesai dalam jangka waktu dua tahun, sehingga pada 2028 seluruh infrastruktur energi sudah siap mendukung operasional,” ujar Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, dalam agenda Ground Breaking Proyek Hilirisasi Fase I di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (6/02/2026).
Adapun, Inalum dan Antam akan menggarap proyek ini melalui perusahaan joint venture mereka, PT Borneo Alumina Indonesia (PT BAI). Keduanya juga akan berkolaborasi dengan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang akan memasok batubara untuk kebutuhan listrik di smelter alumina dan aluminium.
Lebih detail, agenda peresmian mencakup dua proyek utama hilirisasi bauksit. Pertama, fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit menjadi alumina (Smelter Grade Alumina Refinery/SGAR Fase 2) di Mempawah dengan target Commercial Operation Date (COD) pada 2028.
Kemudian, fasilitas pengolahan dan pemurnian alumina menjadi aluminium (new smelter aluminium) di Mempawah dengan target Commercial Operation Date (COD) Kuartal pertama 2029.
Dalam kesempatan yang sama, CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa program hilirisasi merupakan agenda strategis yang menjadi prioritas Presiden Republik Indonesia.
“Tahap awal proyek-proyek ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang nyata bagi perekonomian Indonesia, baik melalui penciptaan nilai tambah industri maupun penyerapan tenaga kerja. Ke depan, proyek-proyek hilirisasi ini diharapkan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, berkelanjutan, dan berdaya saing global,” ujar Rosan.
Di sisi lain, Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, mengatakan aluminium adalah material strategis abad ke-21 yang memiliki peran penting dalam sektor transportasi, energi terbarukan, konstruksi, industri pertahanan, dan teknologi hijau.
"Tanpa adanya hilirisasi aluminium, Indonesia akan terus berada pada posisi sebagai pasar, bukan sebagai produsen. Melalui program hilirisasi ini, kita memastikan bauksit yang ditambang di dalam negeri, khususnya yang ada di provinsi Kalimantan Barat, diproses, kemudian dimurnikan, dan diubah menjadi produk bernilai tinggi," jelas dia.
Ia menambahkan, dampak ekonomi dari proyek ini dapat menimbulkan multiplier effect bersifat jangka panjang yang diharapkan dapat meningkatkan output ekonomi domestik secara signifikan, di mana diperkirakan akan terdapat peningkatan produk domestik bruto sekitar Rp71,8 triliun per tahun.
"Selanjutnya, proyek ini juga berpotensi memperkuat penerimaan negara sekitar Rp6,6 triliun per tahun dan berpotensi menyerap sekitar 65 ribu tenaga kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung, mulai dari tahap konstruksi hingga operasional dan sektor pendukung," tambahnya.
Sementara itu, Bupati Mempawah Erlina berharap kehadiran proyek-proyek strategis tersebut dapat menjadi pembelajaran sekaligus peluang bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk mendorong peningkatan ekonomi daerah.
“Dengan adanya proyek ini, tentu dampak pertama yang kita harapkan adalah penyerapan tenaga kerja lokal. Itu yang paling penting. Selain itu, akan ada pergerakan ekonomi masyarakat, mulai dari kedatangan penduduk dari luar daerah hingga tumbuhnya usaha-usaha pendukung,” ujar Erlina.
Menurut Erlina, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi kunci agar masyarakat lokal, khususnya generasi muda Kalimantan Barat, dapat dipersiapkan dengan keterampilan yang sesuai kebutuhan industri.
“Harapannya, anak-anak Kalbar tidak hanya menjadi penonton, tetapi benar-benar siap dan mampu bekerja di sektor industri yang berkembang di daerahnya sendiri,” tutupnya.
Pusat Hilirisasi
Selama puluhan tahun, Indonesia mengekspor bauksit mentah dengan harga murah dan membeli kembali produk jadinya dengan harga berkali lipat dari luar negeri. Kehadiran fasilitas smelter di Kalbar tentunya mengubah peta kekuatan tersebut.
Proyek hilirisasi bauksit di Kalbar bukan sekadar pembangunan pabrik, melainkan pergeseran paradigma ekonomi Indonesia, dari ekonomi berbasis komoditas mentah menuju ekonomi berbasis industri bernilai tambah tinggi yang berdaya saing global.
Sebagai daerah penghasil bauksit terbesar di Indonesia, Kalbar menguasai sekitar 35-66 persen cadangan nasional dan menjadi pusat hilirisasi bauksit nasional dengan adanya sejumlah fasilitas pengolahan (smelter).
Sesuai dengan Permenko Nomor 16/2025, dari sembilan kawasan industri di Kalimantan dengan status Proyek Strategis Nasional (PSN), empat diantaranya ada di Kalbar.
Selain di Mempawah, ada pula Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) yang dikelola oleh PT Dharma Inti Bersama (DIB) di Kabupaten Kayong Utara. Kawasan industri ini berfokus pada pengolahan dan pemurnian bijih bauksit secara terintegrasi dan berkelanjutan.
PT DIB adalah perusahaan yang tergabung dalam Harita Bauxite (Harita Group) yang bergerak di sektor pertambangan dan smelter, khususnya dalam PSN pengolahan bauksit menjadi aluminium.
Proyek utama yang sedang dikembangkan meliputi smelter alumina refinery untuk produksi alumina menggunakan teknologi bayer, smelter aluminium untuk produksi aluminium menggunakan teknologi hall-heroult dan fasilitas pendukung seperti power plant (pembangkit listrik) dan infrastruktur lainnya.
Meski merupakan investasi swasta, PT DIB fokus pada peningkatan produksi aluminium untuk mengurangi impor. Perusahaan ini juga terlibat dalam pengembangan kawasan industri dan program CSR di sekitar wilayah operasionalnya.
“PT DIB juga berkomitmen dalam memprioritaskan tenaga kerja lokal. Komitmen ini dibuktikan dengan data bahwa 69 persen dari total 1.861 karyawannya saat ini merupakan warga Kalbar,” tegas Perwakilan Manajemen PT DIB, Rasnius Pasaribu pada kegiatan silaturahmi media bertajuk “Jalin Rasa, Jalin Cerita” yang digelar belum lama ini.
Dalam kesempatan tersebut, Rasnius menjelaskan bahwa keberadaan KIPP bukan sekadar pembangunan industri skala nasional, tetapi juga hadir sebagai motor penggerak ekonomi masyarakat lokal.
Menurutnya, fokus perusahaan sejak awal adalah memastikan bahwa masyarakat Kalbar, khususnya warga di sekitar kawasan menjadi bagian terbesar dari pertumbuhan ekonomi industri.
KIPP secara aktif merealisasikan janji untuk memprioritaskan warga Kalbar dalam rekrutmen karyawannya, dimana 69 persen dari total karyawan saat ini yang berjumlah 1.861 orang merupakan warga asli Kalbar.
Penyerapan tenaga kerja difokuskan pada wilayah terdekat, di mana 1.093 pekerja berasal dari Kabupaten Kayong Utara, dan 403 pekerja merupakan warga Desa Pelapis, desa yang lokasinya paling dekat dengan kawasan industri, dan sisanya 31 persen berasal dari luar Kalbar.
Ia menegaskan bahwa angka ini sekaligus membuktikan bahwa keberadaan DIB benar-benar membuka ruang kesempatan kerja yang luas bagi masyarakat lokal, sejalan dengan arahan pemerintah agar kawasan industri memberikan dampak langsung terhadap peningkatan ekonomi daerah.
Selain itu, komitmen perusahaan terhadap tenaga kerja lokal bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan operasional jangka pendek, tetapi juga merupakan strategi pengembangan sumber daya manusia untuk jangka panjang.
Dengan adanya pengembangan fasilitas industri yang kompleks seperti power plant, smelter aluminium, dan alumina refinery, perusahaan akan membutuhkan tenaga kerja terampil yang berkelanjutan dan berkualitas.
Penyerapan tenaga kerja lokal ini akan diikuti dengan investasi dalam pengembangan keahlian (up-skilling) dan pelatihan (training) agar warga lokal dapat mengisi posisi yang lebih terampil dan strategis seiring berkembangnya teknologi di dalam kawasan industri.
"Kami ingin supaya masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton. Mereka harus menjadi pemain utama. Itulah kenapa sejak awal kami membuka ruang, memberikan pelatihan, serta melibatkan masyarakat sekitar di berbagai lini pekerjaan,” tegasnya.
Menurut Rasnius, hilirisasi mineral yang dijalankan KIPP akan mendorong peningkatan permintaan tenaga kerja. Apalagi Indonesia selama ini masih mengimpor 56 persen dari kebutuhan aluminium nasional yang mencapai 1,2 juta ton.
Dengan beroperasinya industri pengolahan bauksit di KIPP, kebutuhan itu dapat dipenuhi di dalam negeri sekaligus memperkuat devisa negara dan menambah peluang kerja bagi masyarakat Kalbar.
Di luar sektor industri, kontribusi DIB terhadap masyarakat lokal juga diwujudkan melalui program CSR. Perusahaan memberikan beasiswa kepada mahasiswa asal Kayong Utara yang melanjutkan studi di berbagai perguruan tinggi, seperti Universitas Tanjungpura, Universitas OSO, dan kampus lainnya.
Program ini, kata Rasnius, menjadi bagian dari upaya mendorong lahirnya tenaga kerja terdidik yang ke depan dapat mengisi kebutuhan profesional industri.
Tak hanya itu, keberadaan kawasan industri juga memberi dampak positif bagi masyarakat pesisir. Sejumlah nelayan di sekitar Pulau Penebang mengaku terbantu karena peningkatan aktivitas ekonomi mendorong naiknya produksi dan daya jual hasil laut. (din/rill/knt/ind)