Opini post authorKiwi 12 Maret 2021

Umme Menjaga Tradisi

Photo of Umme Menjaga Tradisi Muhammad Yamin Adysa Putra

Oleh Muhammad Yamin Adysa Putra, Pegiat Gemawan

Desa Semanga berada di Kecamatan Sejangkung, Kabupaten Sambas. Berjarak ±65  km dari ibukota Kabupaten Sambas, ada dua akses yang dapat digunakan untuk sampai di desa yang berada di tepian Sungai Sambas ini, yakni jalur darat dan air.

Jika menggunakan jalur darat, kendaraan yang bisa digunakan hanyalah sepeda motor dengan waktu tempuh 60 menit. Sementara jika menggunakan jalur air, maka kita akan diajak mengarungi Sungai Sambas selama 45 menit.

Desa Semanga memiliki keunikan geografis, dibelah oleh aliran Sungai Sambas dan bersebelahan denganGunung Senujuh, nama yang diberikan penduduk lokal pada bukit yang merupakan tempat hidup beragam botani.

Mayoritas masyarakat Semanga bekerja di perkebunan kelapa sawit, hanya segelintir saja yang masih berkebun karet dan mengolah lahan pertanian. Lazimnya komunitas yang hidup di bantaran sungai, masyarakat Semanga juga bergantung pada sungai yang ada, selain sebagai akses utama untuk menjangkau antardusun, sungai juga dimanfaatkan untuk keperluan mandi dan mancari ikan.

Sayangnya, sungai tersebut sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi sebagai sumber air munum masyarakat. Masyarakat harus membeli air kemasan untuk memenuhi kebutuhan air munumnya.

Adapun sumber mata air yang ada di Gunung Senujuh tidak mampu memenuhi keseluruhan penduduk Desa Semanga, hanya mencakup satu dusun yang bertepatan di bawah gunung tersebut.

Jumlah ikan yang diperoleh di sungai pun sangat berkurang, sebagaimana dituturkan oleh penduduk lokal. Berdasarkan riset yang dilakukan Ecoton di Semanga, limbah industri di hulu Sungai Sambas memberikan dampak pada tercemarnya air Sungai Sambas yang diduga mempengaruhi pada jumlah ikan.

Jauh sebelum masuknya perkebunan sawit, mayoritas masyarakat disana berumme (bahasa lokal untuk bertani), juga menanam sayur-mayur dilahan kelola mereka. Namun saat ini sudah banyak lahan yang tidak dikelola, hal ini diakibatkan bencana banjir dan hama yang menggerogoti wilayah kelola mereka sehingga menyebabkan gagal panen. Oleh karenanya, masyarakat yang sudah mulai frustasi akibat terus-menerus gagal panen memutuskan beralih bekerja pada perkebunan.

Gemawan memutuskan melakukan pendampingan di Desa Semanga untuk mengembalikan ruang hidup dan sumber penghidupan bagi masyarakat. Mengembalikan ruang hidup dan sumber penghidupan yang beragam bagi masyarakat mutlak dilakukan, untuk mencegah ketergantungan pada satu komoditas dan mencegah mereka menjadi buruh di kampung sendiri.

Agar alam tidak semakin memburuk, kita harus mengembalikan realitas masyarakat, meskipun tidak akan sama persis seperti sediakala.Dalam advokasinya, Gemawan melakukan pendekatan melalui skema pembentukan kelompok perempuan, karena realitasnya  perempuan adalah sosok yang paling dekat dengan alam. Perempuan memiliki peran sentral dalam kehidupan, tidak hanya keluarga, bahkan berperan besar dalam konteks yang lebih luas. Sayangnya, dalam budaya patriarkis, peran perempuan hanya dibatasi pada wilayah domestik saja.

Salah satu kelompok yang dibentuk oleh Gemawan pada Tahun 2019 yaitu Kelompok Umak-Umak Peduli Aik (KUMPAI) untuk menepis semua stigma negatif terhadap perempuan. Kelompok ibu-ibu ini memiliki semangat dalam melakukan dan mempertahankan kearifan lokal mereka melebihi khalayak lainnya. Disaat mayoritas masyarakat Desa Semanga memutuskan menjadi buruh, kelompok ini berusaha menghidupkan kembali kearifan lokal mereka, yaitu berumme.

Ibu Mardiyah, misalnya, salah satu anggota KUMPAI yang masih mengelola lahannya dengan menanam padi.

“Kita ini lahir dari padi, nenek moyang kita, orangtua kita menghidupi kita dengan berumme. Jika kita tidak berumme sekarang, siapa lagi yang akan mempertahankan budaya orangtua kita?” ujarnya kepada tim Gemawan yang berkunjung ke Semanga.

Bagi Mardiyah, berumme itu sebagian dari kisah perjalanan kehidupan. Sehingga, ketika ia tidak berumme lagi, tidak akan ada yang mengingat perjuangan orangtua dan nenek moyangnya. Ia tidak ingin budaya berumme ini hilang, karena berumme itu bukan hanya sebatas menanam padi dan menghasilkan uang saja, akan tetapi identitas juga ada di dalamnya.

Berumme menjadi ruang interaksi sosial melalui tradisi atau kearifan lokal yang mereka jalani. Dengan kata lain, ini bicara mengenai livelihoods.Selain di umme, anggota KUMPAI juga mulai menanam sayur memanfaatkan ruang pada halaman rumahnya.

Selain menghidupkan kembali budaya bertani - yang pada dasarnya merupakan identitas masyarakat desa yang hampir hilang - disebabkan oleh beberpa faktor yang disebutkan di atas, ibu-ibu anggota KUMPAI ini juga aktif dalam mengkampanyekan untuk menjaga keberlanjutan alam.

Contohnya adalah menginisiasi gerakan peduli sungai dengan tidak membuang sampah di sungai. Satu minggu sekali, mereka berkeliling desa untuk mengambil sampah di setiap rumah masyarakat lalu dikumpulkan pada satu titik dan dibakar.

“Sungai sudah cukup tercemar, jangan lagi diperparah dengan membuang sampah kita ke sungai,” ujar salah satu anggota KUMPAI.

Kelompok Umak-umak Peduli Aik menunjukan bahwa perempuan mampu menjadi aktor perubahan. Melalui gerakan kolektif, mereka mempu mempengaruhi masyarakat lainnya yang sudah mulai sadar untuk terlibat menjaga kearifan lokal dan keberlanjutan lingkungan mereka.

“Sudah banyak ibu-ibu dan pelajar yang sudah mau terlibat dalam gerakan ini, walaupun hal ini sudah dilakukan hampir dua tahun baru nampak pengaruhnya, saya sangat senang. Saya juga dapat pengalaman bahwa hal-hal baik itu tidak semata-mata langsung berdampak baik pada saat itu juga, akan tetapi hal itu pasti berdampak,” tegas Wanti, pendamping lokal Gemawan.(*)

 

 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda