Ponticity post authorAju 01 Maret 2021 8,155

Mantan Wagub LH Kadir Tutup Usia di RSKS Antonius

Photo of Mantan Wagub LH Kadir Tutup Usia di RSKS Antonius Drs Laurentius Herman Kadir

PONTIANAK,  SP - Laurentius Herman Kadir (79 tahun) mantan Wakil Gubernur (Wagub) Kalimantan Barat (2003 - 2008) dipanggil Tuhan dalam usia 79 tahun di Ruang Intensif Care Unit (ICU) Rumah Sakit Katolik Santo (RSKS) Antonius, Pontianak, pukul 19.00 WIB, Senin, 1 Maret 2021.

Pukul 15.00 WIB, Senin, 1 Maret 2021, Doker Thomas, petugas jaga di ICU, memberitahu keluarga, untuk siap menerimaan kenyataan terburuk. Segenap keluarga sudah berkumpul di RSKS Antonius.

LH Kadir dirawat di RSKS Antonius sejak Senin,  22 Februari 2021, karena ada gangguan fungsi syaraf di bagian otak.

Senin malam, 22 Februari 2021, langsung menjalani operasi. Usai operasi kondisi kesehatan LH kadir terus memburuk.

LH Kadir memiliki 5 cucu. Istri, Margaretta Maria, meninggal dunia pada 23 Juni 1999. Anak bungsu, David Riyam meninggal dunia di Purwokerto, 16 Juli 2019. Anak tertua bernama Alexander Fadjar Putera dan anak kedua, Yean Frans Fiandauw.

LH Kadir lahir di Tisi Temeru, Embaloh Hilir,  Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat, 28 Mei 1941.

Tamat Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3, Pontianak, satu angkatan dengan Hamzah Haz, mantan Wakil Presiden dan Max Moein, politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Tamat dari Akademi Pemerintahan Dalam Negeri Pontianak tahun 1968 ditugaskan ke lingkungan Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu.

Dari Kabupaten Kapuas Hulu ditarik ke Inspektorat Provinsi Kalimantan Barat, Kepala Biro Pemerintahan Desa, Kepala Biro Pemerintahan Umum, Kepala Kantor Pemerintahan Desa,  Asisten Pemerintahan Provinsi Kalimantan Barat,  dan Wakil Gubernur Kalantan Barat (14 Januari 2003 - 14 Januari 2008).

Selama di Pemerintahan,  turut merancang sistem Pemerintahan Desa, pembentukan kecamatan baru, rancang Kalimantan Barat jadi 2 provinsi di Lembang, Bandung, 1991.

Saat jadi Wakil Gubernur Kalimantan Barat,  LH. Kadir sebagai salah satu pendiri Program Studi Ilmu Pemerintahan kerjasama dengan Universitas Tanjungpura dan salah satu pendiri Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura, pontianak.

Selama birokrat LH Kadir, pernah ditugaskan Gubernur Kadarusno dalam menghentikan kerusuhan rasial Dayak - Madura di Samalantan, Kabupaten Bengkayang tahun 1977.

LH Kadir pula diutus Gubernur Kalimantan Barat, Aspar Aswin, untuk mencairkan komunikasi politik dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Barat, akibat mosi tidak percaya tahun 2001.

LH Kadir, berhasil yakinkan Gubernur Kalimantan Barat, Aspar Aswin dan Kepala Polisi Daerah Kalimantan Barat,  Kolonel Polisi Chairul Rasyid, supaya menutup pengusutan insiden pembakaran Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tingkat II Pontianak (sekarang Kabupaten Mempawah) di Mempawah, Jumat, 4 Februari 1998, karena menghindari implikasi sosial lebih luas.

Insiden Mempawah, Jumat, 4 Februari 1998, membuat Kementerian Dalam Negeri dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, memutuskan secara nyata ada perwujudan kemauan politik Pemerintah di dalam melibatkan Suku Dayak pada level Pimpinan Daerah,  agar terciptanya pemerataan pembangunan dan mengeliminir tingkat kecemburuan politik.

LH kadir merupakan loyalis Johanes Chrisostomus Oevaang Oeray,  Gubernur Kalimantan Barat dari Partai Persatuan Dayak,  1959 - 1966.

Ketika J.C. Oevaang Oeray didemonstrasi banyak organisasi kemasyarakatan, di antaranya Pemuda Katolik dan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) dibekingi sejumalah biarawan Katolik, karena dituding terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI), pasca Gerakan 30 September 1965, LH. Kadir, bersama Hugo Mungok dan Christoforus Iman Kalis,  selalu berada di barisan terdepan dalam melakukan pembelaan.

Menurut LH Kadir, tuduhan J.C. oevaang Oeray terlibat PKI,  sifatnya subyektif hanya lantaran Gubernurnur pertama Kalimantan Barat, itu, sebagai loyalis Presiden Soekarno (17 Agustus 1945 - 22 Juni 1966).

Bukti tidak terlibat PKI, J.C. oevaang Oeray pensiun secara resmi dari Pegawai Negeri Sipil dan menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Golongan Karya (Golkar), 1977 - 1982.

Dari aspek pemantapan jaringan infrastruktur kebudayaan Dayak,  LH kadir meninggalkan produk literasi yang tidak ternilai harganya dari karya anthropologis, yaitu Kamus Suku Dayak Kantuk - Indonesia,  dan Lwgenda, Adat dan Budaya Kantuk,  Serta Sejarah Singkat Kebangkitan Dayak Kalimantan Barat, terbitan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat, 2018.

Laurentius Herman Kadir, Selamat Jalan.*

Wartawan: Aju

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda