Ponticity post author elgiants 18 September 2026

Pemprov Kalbar Kucurkan Rp60 Miliar untuk Karhutla, Pacu Operasi Pemadaman, Hujan Buatan hingga Penanganan Asap

Photo of Pemprov Kalbar Kucurkan Rp60 Miliar untuk Karhutla, Pacu Operasi Pemadaman, Hujan Buatan hingga Penanganan Asap

PONTIANAK, SP - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Barat (Kalbar) memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan dukungan anggaran Rp60 miliar melalui Belanja Tidak Terduga (BTT) pada APBD Perubahan 2026.

"Anggaran tersebut terdiri atas Rp20 miliar dari APBD Provinsi Kalbar dan Rp40 miliar bantuan pemerintah pusat untuk mendukung penanganan karhutla di wilayah Kalbar," kata Gubernur Kalbar, Ria Norsan di Pontianak, Jumat (18/9/2026).

Bantuan Pemerintah Pusat sebesar Rp40 miliar diberikan untuk mendukung berbagai kebutuhan penanganan karhutla dengan mengacu pada Surat Edaran (SE) Menteri Dalam Negeri Nomor 300.2.8/6460/SJ tanggal 9 September 2026.

Berdasarkan ketentuan dalam SE tersebut, bantuan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan penanganan karhutla, antara lain operasi pemadaman darat dan metode suntik gambut, penyediaan bahan bakar, logistik, makanan dan minuman bagi personel lapangan, serta operasional posko, distribusi logistik dan evakuasi masyarakat, serta kesiapsiagaan dan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak kabut asap.

Dukungan juga mencakup untuk pengadaan sarana dan prasarana penanganan karhutla, seperti alat pelindung diri, pompa air, pompa gendong, tangki air, selang, pembuatan sumur bor, kendaraan taktis pemadaman, motor trail hingga penyewaan ekskavator.

Dengan dukungan tersebut, pemerintah memiliki ruang lebih besar untuk memperkuat operasi di lapangan, terutama ketika kebakaran terjadi di kawasan yang sulit dijangkau dan membutuhkan dukungan peralatan maupun logistik secara cepat.

Norsan menjelaskan penanganan karhutla tidak hanya diarahkan pada pemadaman. Bantuan juga dapat digunakan untuk pelayanan kesehatan masyarakat terdampak, seperti bantuan medis, masker, vitamin atau obat-obatan serta oksigen portabel.

Dukungan diberikan pula kepada Masyarakat Peduli Api (MPA) dan relawan, termasuk insentif pemadaman serta pemulihan ekosistem lahan gambut yang terbakar.

Norsan menegaskan, dukungan anggaran tersebut harus diikuti sinergi seluruh pihak agar kapasitas penanganan karhutla berjalan cepat, terpadu dan mampu melindungi masyarakat dari dampak kebakaran.

"Penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama. Dukungan anggaran yang telah disiapkan pemerintah daerah dan bantuan dari pemerintah pusat harus dimanfaatkan secara optimal untuk memperkuat penanganan di lapangan serta melindungi masyarakat dari dampak karhutla," tuturnya.

Pemprov Kalbar memastikan penggunaan anggaran dilaksanakan sesuai ketentuan dan peruntukannya. Dalam kondisi tanggap darurat, bantuan Pemerintah Pusat maupun bantuan keuangan dari pemerintah daerah lainnya dapat dianggarkan melalui BTT sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pengawasan dan pertanggungjawaban penggunaan bantuan juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan penanganan karhutla. Inspektorat Daerah selaku Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) melakukan monitoring dan evaluasi terhadap penggunaan bantuan, sementara pemerintah daerah wajib menyampaikan laporan pelaksanaan sesuai mekanisme yang ditetapkan.

Dengan dukungan Rp60 miliar tersebut, Pemprov Kalbar mengoptimalkan koordinasi dan seluruh sumber daya yang tersedia untuk memperkuat penanganan karhutla, menekan dampaknya terhadap masyarakat serta mempercepat pemulihan wilayah yang terdampak.

Gencarkan OMC

Upaya penanganan karhutla di Kalbar juga terus diperkuat melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah tersebut dilakukan seiring prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menunjukkan potensi hujan masih terdapat di hampir seluruh kabupaten/kota di Kalbar hingga 22 September 2026.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar, Ridwan, mengatakan berdasarkan data BMKG, peluang hujan diperkirakan masih terjadi di sebagian besar wilayah Kalbar mulai Rabu (16/9/2026) hingga Selasa (22/9/2026).

“Untuk update curah hujan dari hari ini, Rabu 16 September 2026 sampai 22 September 2026 ini diprediksi atau diperkirakan berdasarkan data BMKG menunjukkan potensi hujan hampir semua kabupaten/kota ada,” kata Ridwan.

Ia menjelaskan, pada Rabu (16/9), hampir seluruh wilayah Kalbar diperkirakan tertutup awan hujan sehingga peluang terjadinya hujan relatif tinggi di berbagai daerah.

Menurutnya, potensi hujan diperkirakan mengalami sedikit penurunan pada 18 September dan kembali menurun pada 20 September. Namun, peluang hujan diprediksi kembali meningkat pada 21 hingga 22 September.

“Untuk 16 September 2026 sendiri hampir seluruhnya tertutup awan hujan dan nanti pada 18 September ada sedikit penurunan, dan di 20 September adanya penurunan. Selanjutnya pada tanggal 21 dan 22 September ini untuk kemungkinan terjadinya hujan tinggi lagi,” jelasnya.

Prakiraan tersebut menjadi kabar positif di tengah kondisi kabut asap yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kalbar akibat karhutla. Curah hujan diharapkan dapat membantu menurunkan konsentrasi asap sekaligus mendukung proses pemadaman titik api yang masih tersisa.

Meski demikian, BPBD Kalbar memastikan tidak hanya mengandalkan hujan alami. Berbagai upaya terus dilakukan untuk meningkatkan peluang turunnya hujan, salah satunya melalui pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Ridwan menegaskan OMC akan terus dijalankan sebagai bagian dari strategi penanganan karhutla, terutama selama potensi pembentukan awan hujan masih tersedia.

“Hal ini di kita, di BPBD Kalbar untuk antisipasi, kita usaha, yang kita lakukan untuk OMC tetap kita lakukan, sampai curah hujan tinggi tetap kita lakukan,” ujarnya.

Menurut BPBD Kalbar, kombinasi antara potensi hujan alami dan pelaksanaan OMC diharapkan dapat mempercepat perbaikan kualitas udara serta membantu menekan risiko meluasnya kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah Kalimantan Barat.

Kabut Menipis

Kondisi kabut asap pekat yang sempat menyelimuti Kota Pontianak dan sekitarnya mulai menunjukkan tanda-tanda membaik pada Jumat (18/9/2026). Sejak pagi hingga sore hari, ketebalan kabut asap mulai berkurang secara signifikan.

Cuaca sempat tampak cerah seiring kembali munculnya sinar matahari. Berdasarkan pantauan di lapangan, kabut asap yang menyelimuti kota kian menipis jika dibandingkan beberapa hari sebelumnya yang sangat pekat.

Namun, kondisi tersebut tidak bertahan lama. Menjelang malam hari, kabut asap terpantau kembali menebal dan menyelimuti kota.

Suasana cerah ini pun menjadi angin segar bagi masyarakat, mengingat dalam beberapa hari sebelumnya pekatnya kabut asap sempat membatasi jarak pandang dan mengganggu aktivitas harian warga di komplek-komplek perumahan.

"Alhamdulillah hari mulai cerah, matahari telah muncul. Kabut asap menipis dan di komplek kami sudah cerah. Kalau beberapa hari sebelumnya sangat pekat," ujar warga Pontianak Ridha Rahmawati di Pontianak, Jumat (18/9/2026).

Ia berharap kondisi saat ini semakin baik ke depannya sehingga aktivitas masyarakat di luar kembali normal tanpa masker. Menurutnya, selama ini harus menggunakan masker karena pekat.

"Kita berdoa hujan terus hadir sehingga kondisi udara sehat dan kabut asap hilang," ucapnya.

Seiring menipisnya kabut asap, kualitas udara Pontianak pun menunjukkan perbaikan signifikan dibandingkan kondisi ekstrem beberapa hari sebelumnya.

Berdasarkan pemantauan IQAir pada Jumat (18/9/2026) pukul 13.00 WIB, Indeks Kualitas Udara (AQI US) berada pada angka 235, dengan polutan utama PM2,5 mencapai 160 µg/m³ dan dikategorikan sangat tidak sehat.

Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan pemantauan sebelumnya pada Sabtu (12/9/2026), ketika AQI sempat mencapai 1.368 dengan PM2,5 sekitar 761 µg/m³. Dengan demikian AQI telah turun sekitar 82,8 persen, sedangkan konsentrasi PM2,5 berkurang sekitar 79 persen.

Meski terjadi penurunan tajam, namun kondisi udara Pontianak belum dapat dikatakan baik. IQAir menempatkan AQI 201–300 dalam kategori sangat tidak sehat, sementara 301 ke atas masuk kategori berbahaya.

Data IQAir juga menunjukkan bahwa PM2,5 menjadi polutan dominan di Pontianak. Partikel berukuran sangat kecil ini menjadi indikator penting dalam menilai risiko polusi udara. IQAir menyebut AQI+ menggunakan rata-rata konsentrasi per jam sehingga dapat menggambarkan perubahan kondisi udara secara lebih cepat.

Kesimpulannya, Pontianak telah keluar dari kondisi ekstrem AQI di atas 1.000, tetapi udara masih berada pada level sangat tidak sehat dan belum kembali ke kondisi aman.

Seperti diketahui, dalam sepekan terakhir, sejumlah daerah di Kota Pontianak maupun di daerah lainnya di Kalbar diguyur hujan sehingga udara mulai membaik dan asap berkurang karena sumber api padam oleh hujan tersebut.

Berdasarkan data BMKG per 16 September 2026 pukul 00.00–16.00 WIB, terdeteksi 398 titik panas di Kalbar. Sebaran terbanyak berada di Kabupaten Ketapang sebanyak 302 titik, terdiri atas 298 tingkat kepercayaan menengah dan tiga tinggi serta satu rendah.

Kayong Utara berada di urutan berikutnya dengan 66 titik, seluruhnya berkategori menengah. Kubu Raya tercatat 20 titik, Melawi enam titik, Sekadau tiga titik, dan Sintang satu titik.

Sementara itu Sambas, Mempawah, Sanggau, Kapuas Hulu, Bengkayang, Landak, Pontianak, dan Singkawang tidak terdeteksi titik panas. Data tersebut menunjukkan konsentrasi hotspot masih berada di wilayah selatan Kalbar, terutama Ketapang. (ant/adpim)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda