Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Program Studi Ilmu Kelautan Universitas OSO (UNOSO) mendorong masyarakat Desa Lemukutan, Kabupaten Bengkayang, lebih aktif menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan pesisir.
Upaya tersebut dilakukan melalui edukasi lingkungan dan pelatihan monitoring sampah pesisir yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan keterampilan masyarakat dalam menangani persoalan sampah pesisir secara partisipatif dan berkelanjutan.
Edukasi dilakukan melalui penyuluhan, diskusi interaktif hingga praktik monitoring sampah. Masyarakat diberikan pemahaman mengenai jenis dan sumber sampah pesisir, dampaknya terhadap ekosistem laut dan kehidupan masyarakat, serta prinsip pengurangan dan pemilahan sampah.
Selain persoalan lingkungan, tim juga mengajak masyarakat melihat keterkaitan kebersihan pesisir dengan keberlanjutan wisata bahari.
Kawasan pesisir yang bersih dinilai tidak hanya penting bagi ekosistem laut, tetapi juga menjadi faktor yang memengaruhi kenyamanan wisatawan serta citra kawasan wisata.
Dosen Program Studi Ilmu Kelautan UNOSO yang terlibat dalam kegiatan tersebut, Dodi, mengatakan menjaga kebersihan kawasan pesisir membutuhkan keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan.
“Lingkungan yang bersih dan terawat akan memberikan kesan positif bagi masyarakat maupun wisatawan. Karena itu, menjaga kebersihan kawasan pesisir tidak cukup hanya dilakukan melalui tindakan sesaat, tetapi juga perlu disertai edukasi dan monitoring secara berkelanjutan,” ujar Dodi.
Menurutnya, masyarakat memiliki posisi penting karena berinteraksi langsung dengan lingkungan pesisir. Dengan kemampuan monitoring, masyarakat dapat mengetahui kondisi sampah secara lebih nyata, mulai dari jenis, jumlah hingga karakteristiknya.
Setelah mendapatkan edukasi, masyarakat kemudian mengikuti pelatihan monitoring sampah pesisir berbasis partisipatif.
Peserta tidak hanya mendapatkan materi secara teori, tetapi juga mempraktikkan langsung proses pemantauan di kawasan pesisir.
Dalam praktik tersebut, masyarakat diajarkan mengidentifikasi dan mengelompokkan sampah, melakukan pencatatan, pengukuran atau penimbangan, serta mendokumentasikan sampah yang ditemukan.
Data yang diperoleh dari monitoring nantinya dapat menjadi bahan evaluasi untuk mengetahui pola permasalahan sampah sekaligus membantu menentukan langkah penanganan yang lebih tepat.
Dodi mengatakan, data lingkungan menjadi penting agar pengelolaan sampah tidak dilakukan berdasarkan perkiraan semata.
“Ketika masyarakat memiliki kesadaran dan keterampilan untuk menjaga lingkungannya, maka kebersihan kawasan wisata tidak hanya bergantung pada kegiatan sesaat, tetapi dapat menjadi budaya dan kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus,” tambahnya.
Menurutnya, kawasan wisata pesisir memiliki nilai ekologis sekaligus ekonomi bagi masyarakat. Karena itu, menjaga kebersihan pesisir harus menjadi bagian dari upaya mempertahankan keberlanjutan pariwisata bahari.
Melalui kegiatan tersebut, Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Program Studi Ilmu Kelautan UNOSO berharap masyarakat Desa Lemukutan tidak hanya memahami persoalan sampah, tetapi juga mampu melakukan pemantauan dan mengambil peran dalam menjaga lingkungan secara mandiri.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendorong pengelolaan lingkungan pesisir berbasis masyarakat.
Dengan edukasi, peningkatan kapasitas dan monitoring yang dilakukan secara berkelanjutan, kawasan pesisir Desa Lemukutan diharapkan tetap bersih, sehat dan mampu mendukung kelestarian ekosistem serta perkembangan wisata bahari. (din)