Opini post author Kiwi 03 November 2026

Ketika Laut Bercerita Mengusik Nurani Kita

Photo of Ketika Laut Bercerita Mengusik Nurani Kita

Oleh: Syamsul Kurniawan

ADA film yang selesai ketika lampu bioskop dinyalakan. Penonton berdiri, merapikan pakaian, mencari telepon genggam, lalu berjalan menuju pintu keluar. Beberapa mungkin membicarakan akting pemainnya, sebagian lain mengomentari jalan ceritanya.
Namun, ada film yang tidak benar-benar selesai ketika layar menjadi gelap. Ia ikut pulang, duduk di samping kita, lalu diam-diam mengajukan pertanyaan yang sulit dijawab. Laut Bercerita adalah salah satunya.

Saya membayangkan, setelah menonton film ini, seseorang mungkin akan memandangi kursi kosong di rumahnya sedikit lebih lama. Bukan karena kursi itu istimewa, melainkan karena kita tiba-tiba memahami bahwa sebuah kursi dapat menyimpan kehilangan.
Ada seseorang yang seharusnya duduk di sana, tetapi entah di mana tubuhnya berada. Ada keluarga yang masih menyiapkan ruang untuk kepulangannya, meskipun tahun demi tahun telah mengajarkan bahwa harapan kadang-kadang merupakan pekerjaan yang sangat melelahkan.

Film karya Yosep Anggi Noen yang diadaptasi dari novel Leila S. Chudori ini membawa kita kembali ke penghujung Orde Baru. Kita bertemu Biru Laut, seorang mahasiswa yang memilih jalan aktivisme, bersama kawan-kawannya dalam kelompok Winatra.
Mereka bukan orang-orang yang memiliki kekuasaan besar. Mereka hanya sekumpulan anak muda yang percaya bahwa negara seharusnya dapat dikritik, bahwa ketidakadilan tidak boleh dibiarkan menjadi kebiasaan, dan bahwa diam bukan selalu pilihan yang paling aman bagi nurani.
Mereka membaca, berdiskusi, menyusun gagasan, bergerak dari satu tempat ke tempat lain, dan membayangkan Indonesia yang berbeda. Dalam imajinasi mereka, negara bukanlah sesuatu yang harus ditakuti.
Negara adalah rumah bersama yang seharusnya dapat diperbaiki. Mereka mungkin tahu risiko dari jalan yang dipilih, tetapi barangkali tidak pernah benar-benar membayangkan bahwa mempertanyakan kekuasaan dapat membuat seseorang kehilangan tubuhnya sendiri.

Di sinilah tragedi itu bermula. Kekuasaan yang takut pada kritik perlahan-lahan mengubah perbedaan pendapat menjadi ancaman. Mereka yang semula hanya ingin berbicara dipaksa belajar bagaimana rasanya dibungkam. Ruang diskusi berubah menjadi ruang persembunyian.
Buku-buku dan selebaran menjadi benda yang dicurigai. Dan manusia, dengan segala pikiran serta keyakinannya, diperlakukan seolah-olah sesuatu yang harus disingkirkan.

Ada adegan-adegan yang membuat kita ingin memalingkan wajah. Penyiksaan bukan sekadar peristiwa yang diperlihatkan kamera, melainkan pengingat bahwa kekuasaan dapat menjadi begitu kejam ketika tidak lagi menganggap manusia sebagai manusia.
Tubuh-tubuh yang disakiti itu sesungguhnya sedang menyampaikan sesuatu: bahwa ada harga yang harus dibayar ketika seseorang menolak tunduk. Tetapi apakah harga itu memang seharusnya begitu mahal?

Saya teringat bahwa aktivisme sering kali dimulai dari sesuatu yang sederhana. Seseorang melihat ketidakadilan, lalu bertanya mengapa. Ia melihat orang lain diperlakukan tidak semestinya, kemudian merasa tidak sanggup berpura-pura tidak tahu.
Dari pertanyaan kecil itu, tumbuh keberanian. Dari keberanian, lahir tindakan. Dan dari tindakan, terkadang lahir risiko yang tidak pernah masuk dalam perencanaan hidup seseorang.

Namun, Laut Bercerita tidak berhenti pada tubuh para aktivis yang dihilangkan. Justru setelah mereka tidak lagi terlihat, cerita memperlihatkan bagaimana kehilangan terus bekerja dalam kehidupan orang-orang yang ditinggalkan.
Di sinilah keluarga Biru Laut mengambil tempat yang sangat penting. Asmara Jati, bersama kedua orang tuanya, harus menjalani kehidupan dengan sebuah pertanyaan yang tidak memperoleh jawaban: apakah ia masih hidup, atau sebenarnya telah tiada?

Kita mengenal kematian sebagai sebuah akhir. Ada jasad, pemakaman, doa, dan kesempatan bagi keluarga untuk mengucapkan selamat tinggal. Tetapi bagaimana jika seseorang menghilang tanpa kuburan?
Bagaimana jika orang tua tidak pernah mengetahui di mana anaknya berada? Bagaimana jika setiap suara kendaraan yang berhenti di depan rumah membuat mereka berharap bahwa anak yang lama ditunggu akhirnya pulang?

Kursi kosong di meja makan menjadi simbol yang jauh lebih menyakitkan daripada pidato panjang tentang pelanggaran hak asasi manusia. Sebab, kekerasan negara tidak hanya menghancurkan orang yang menjadi korbannya.
Ia juga memasuki ruang keluarga, mengubah percakapan, merusak tidur, dan membuat sebuah rumah kehilangan sebagian maknanya. Ada orang yang hilang dari dunia, tetapi ketidakhadirannya justru terus hadir setiap hari.

Pada titik ini, saya merasa film tersebut sesungguhnya sedang mengajak kita melihat aktivisme dari dua sisi. Selama ini, kita sering membayangkan aktivis sebagai seseorang yang berdiri di jalan, mengangkat poster, berteriak di depan gedung pemerintahan, atau menyampaikan kritik dengan suara lantang.
Kita jarang membayangkan bahwa di belakang setiap aktivis ada seorang ibu yang menunggu, seorang ayah yang cemas, saudara yang kehilangan teman bercerita, dan keluarga yang harus meneruskan hidup dengan pertanyaan yang tidak selesai.

Tetapi ada satu pertanyaan yang terus mengganggu saya setelah menyaksikan kisah Biru Laut dan kawan-kawannya: apakah idealisme memang harus selalu berakhir dengan pengorbanan?
Apakah seseorang harus kehilangan kebebasannya terlebih dahulu agar keyakinannya dianggap sungguh-sungguh? Ataukah justru kita sedang hidup dalam masyarakat yang terlalu sering meminta orang-orang baik membuktikan kebaikannya melalui penderitaan?

Di mana letak idealisme?

Barangkali, idealisme tidak terletak pada seberapa keras seseorang meneriakkan perlawanan. Ia juga tidak selalu berada pada seberapa jauh seseorang mengambil jarak dari kekuasaan.
Idealisme, bagi saya, bermula dari kemampuan seseorang mempertahankan keberpihakan kepada kebenaran, bahkan ketika keberpihakan itu tidak lagi menguntungkan dirinya. Ia adalah sesuatu yang diuji ketika seseorang memiliki kesempatan untuk memilih antara kepentingan pribadi dan kepentingan yang lebih besar.

Biru Laut dan kawan-kawannya memperlihatkan idealisme dalam bentuk yang sangat konkret. Mereka berani membayangkan perubahan ketika keadaan seolah-olah tidak menyediakan kemungkinan untuk berubah. Mereka percaya bahwa ketidakadilan bukan takdir.
Bahwa kekuasaan bukan sesuatu yang tidak boleh disentuh oleh kritik. Bahwa negara tidak boleh menjadi pemilik tunggal kebenaran. Bagi mereka, mencintai Indonesia tidak selalu berarti memuji pemerintahannya. Kadang-kadang, mencintai Indonesia justru berarti berani mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah di dalamnya.

Namun, sejarah mengajarkan bahwa idealisme tidak hanya menghadapi ancaman berupa kekerasan fisik. Ada ancaman lain yang lebih halus: kenyamanan.
Seseorang mungkin dahulu begitu keras mengkritik kekuasaan, tetapi setelah memperoleh kedudukan, ia mulai menemukan alasan untuk memaklumi hal-hal yang sebelumnya ia tentang.
Ia mungkin tidak lagi melihat ketidakadilan sebagai sesuatu yang mendesak untuk diselesaikan. Bahkan, perlahan-lahan, ia dapat menganggap kritik sebagai gangguan terhadap stabilitas yang sedang dibangunnya.

Di sinilah idealisme menghadapi ujian yang berbeda. Pada masa Biru Laut, persoalannya adalah bagaimana mempertahankan suara ketika negara berusaha membungkamnya.
Pada masa sekarang, persoalannya juga dapat berupa bagaimana mempertahankan suara ketika negara justru menawarkan mikrofon, kursi, jabatan, dan akses kepada kekuasaan.
Kita tidak sedang mengatakan bahwa setiap aktivis yang masuk pemerintahan telah mengkhianati perjuangannya. Sebab, perubahan juga dapat menjadi jalan untuk memperjuangkan sesuatu dari dalam. Tetapi pertanyaan tentang apa yang tetap dipertahankan setelah seseorang memperoleh kekuasaan adalah pertanyaan yang sah.

Seorang aktivis boleh berubah. Ia boleh memasuki pemerintahan, menjadi pejabat, bekerja bersama orang-orang yang dahulu dikritiknya, bahkan mengubah sebagian pandangannya setelah menemukan kenyataan yang berbeda. Idealisme tidak seharusnya menjadi penjara yang melarang manusia bertumbuh.
Tetapi perubahan membutuhkan penjelasan. Apa yang dahulu diperjuangkan? Apa yang sekarang diyakini? Prinsip apa yang tetap menjadi batas? Dan apakah ia masih berani mengatakan tidak ketika kekuasaan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nuraninya?
Sebab, persoalan terbesar bukanlah ketika seorang aktivis berpindah dari jalanan ke dalam gedung pemerintahan. Persoalannya adalah ketika ia mulai kehilangan kemampuan untuk membedakan antara kepentingan negara dan kepentingan penguasa.

Ketika kritik dianggap sebagai permusuhan, ketika loyalitas kepada jabatan lebih tinggi daripada keberpihakan kepada rakyat, dan ketika keberanian yang dahulu menjadi identitasnya perlahan berubah menjadi kenangan.

Kita juga harus berhati-hati agar tidak menjadikan Biru Laut sebagai ukuran tunggal untuk menghakimi semua aktivis hari ini. Tidak semua perjuangan harus berakhir dengan penangkapan. Tidak semua keberanian harus dibuktikan melalui penderitaan.
Generasi sekarang memiliki ruang dan tantangan yang berbeda. Ada aktivisme digital, advokasi kebijakan, gerakan lingkungan, pendampingan masyarakat, pembelaan kelompok rentan, dan berbagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan. Bentuknya mungkin berubah, tetapi pertanyaan moralnya tetap sama: kepada siapa keberpihakan kita diberikan?

Dan barangkali di sinilah relevansi Laut Bercerita menjadi semakin penting. Film ini tidak semata-mata meminta kita mengenang Orde Baru sebagai masa ketika kebebasan dirampas.
Ia juga mengingatkan bahwa demokrasi tidak otomatis membuat segala bentuk pembungkaman menghilang. Kekuasaan dapat berganti wajah, bahasa politik dapat berubah, dan teknologi dapat berkembang, tetapi kecenderungan untuk membungkam suara yang tidak menyenangkan selalu memiliki kemungkinan untuk muncul kembali.

Hari ini, orang mungkin tidak selalu dihilangkan dengan cara yang sama seperti Biru Laut. Tetapi suara kritis dapat dilemahkan melalui intimidasi, kriminalisasi, stigma, serangan digital, atau pembentukan opini yang membuat seseorang takut berbicara.
Demokrasi dapat tetap memiliki pemilu, gedung parlemen, dan lembaga-lembaga resmi, tetapi kehilangan sesuatu yang lebih mendasar apabila warga tidak lagi merasa aman untuk menyampaikan keberatan. Demokrasi bukan hanya tentang siapa yang memerintah, melainkan juga tentang apakah mereka yang diperintah masih mempunyai keberanian untuk mengatakan bahwa pemerintah dapat keliru.

Maka, merawat ingatan bukan pekerjaan romantis. Ia adalah tanggung jawab politik. Mengingat Biru Laut bukan berarti kita ingin mengulang penderitaannya.
Mengingat para korban penghilangan paksa bukan berarti kita hidup dalam dendam terhadap masa lalu. Kita mengingat karena ada sesuatu yang tidak boleh dinormalisasi.
Ada keluarga yang masih menunggu jawaban. Ada hak atas kebenaran dan keadilan yang belum boleh dianggap selesai. Dan ada generasi muda yang berhak mengetahui bahwa kebebasan yang mereka nikmati hari ini tidak hadir begitu saja.

Saya membayangkan, jika Biru Laut dapat melihat Indonesia hari ini, mungkin ia tidak akan bertanya apakah semua orang masih mengingat namanya. Ia barangkali justru ingin mengetahui apakah anak-anak muda masih berani membaca buku yang berbeda dari pandangan pemerintah, apakah mahasiswa masih berani mendiskusikan ketidakadilan, apakah masyarakat masih mau berdiri di samping orang-orang yang suaranya sedang dibungkam.
Ia mungkin ingin tahu apakah kursi-kursi kosong itu akhirnya membuat kita lebih peduli terhadap mereka yang hilang, atau justru membuat kita terbiasa hidup bersama kehilangan.

Pada akhirnya, Laut Bercerita mengingatkan kita bahwa sejarah bukan sekadar sesuatu yang telah terjadi. Sejarah adalah sesuatu yang terus meminta pertanggungjawaban dari masa kini.
Dan idealisme bukanlah benda pusaka yang hanya layak disimpan di museum perjuangan. Ia harus hidup dalam keputusan-keputusan kecil, dalam keberanian mengoreksi kekuasaan, dalam kesediaan mendengarkan kritik, dan dalam keteguhan untuk tidak mengkhianati nilai hanya karena keadaan berubah.

Mungkin Biru Laut tidak pernah benar-benar pulang. Tetapi selama kita masih bersedia mendengarkan cerita tentang dirinya, selama kita tidak membiarkan penghilangan manusia menjadi catatan kaki sejarah, dan selama kita masih percaya bahwa kekuasaan harus dapat dipertanggungjawabkan, ceritanya belum selesai.
Sebab, laut memang dapat menyimpan banyak rahasia. Tetapi ada satu hal yang tidak semestinya ia telan: ingatan kita tentang manusia yang pernah berjuang agar negeri ini menjadi tempat yang lebih layak untuk ditinggali. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda