Internasional post authorAju 27 April 2022

Putin Ingatkan Keseimbangan dan Kesetaraan Global di Hadapan Antonio Guterres

Photo of Putin Ingatkan Keseimbangan dan Kesetaraan Global di Hadapan Antonio Guterres Antonio Guterres, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Reuters.

MOSKOW, SP – Presiden Federasi Rusia, Vladimir Putin, dalam diskusi dengan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, mengingatkan pentingnya, keseimbangan dan kesetaraan global, demi terciptanya keamanan dan ketertiban dunia.

Hal itu dikemukakan Vladimir Putin ketika menerima Antonio Guterres di Kantor Presiden Federasi Rusia, Kremlin, Moscow, Rabu 26 April 2022, sebagaimana dilaporkan RIA Novosti, Rabu pagi, 27 April 2022.

Antonio Guterres menemui Menteri Luar Negeri Federasi Rusia, Sergey Lavrov, sebelumnya diskusi dengan Vladimir Putin. Antonio Guterres kemudian bertolak ke Kiev, Ibu Kota Ukraina untuk diskusi dengan Volodymyr Zelensky, Presiden Ukraina.

Antonio Guterres, membawa aspirasi masyarakat global, tentang perlu dihentikan operasi militer khusus Rusia ke Ukraina timur sejak Kamis, 24 Februari 2022, karena telah menimbulkan banyak korban manusia tidak berdosa di Ukraina.

Vladimir Putin tidak menyebutkan negara anggota North Atlantic Treaty Organization (NATO) dimotori Amerika Serikat, telah membuat ketidakseimbangan dan ketidaksetaraan global, sehingga menimbulkan konflik di sejumlah kawasan di dunia.

Vladimir Putin, mengilustrasikan apa yang telah ditulis dan munculkan dalam Alkitab: di sana semua orang adalah sama. Tentunya kita akan menemukan hal yang sama di dalam Alqur’an dan di dalam Taurat.

“Semua orang sama di hadapan Tuhan,” kata Vladimir Putin, Presiden Federasi Rusia, sembari mengingatkan keamanan dan ketertiban dunia bisa terwujud, apabila ada kesetaraan dan keseimbangan global.

Vladimir Putin seakan mengingatkan, keberadaan NATO dimotori Amerika Serikat, telah menimbulkan ketidakseimbangan dan ketidaksetaraan global.

Rusia sudah berkali-kali sejak tahun 2008 mengingatkan NATO untuk tidak melakukan ekspansi ke Eropa timur, terutama merekrut 15 negara pecahan Union of Soviet Socialist Republic (USSR) sejak 25 Desember 1991, karena merupakan ancaman kedaulatan bagi Rusia, tapi tidak dihiraukan, sehingga kemudian dilakukan operasi militer khusus ke Ukraina timur sejak Kamis, 24 Februari 2022.

Apa lagi di sektor timur Ukraina, sebagai salah satu dari 15 negara pecahan USSR, negara itu berbatasan darat langsung dengan Rusia.

Bandingkan militan Negara Islam

Vladimir Putin pada pertemuan dengan Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres membandingkan Angkatan Bersenjata Ukraina dengan militan Negara Islam.

Rusia mendengar dari pihak berwenang Ukraina bahwa ada warga sipil di sana. Tapi kemudian prajurit tentara Ukraina wajib membebaskan mereka.

Atau mereka kemudian bertindak sebagai teroris di banyak negara di dunia, seperti The Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Suriah, bersembunyi di balik warga penduduk sipil.

“Yang paling sederhana adalah membiarkan orang-orang ini keluar. Kenapa lebih mudah," kata Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Vladimir Putin, menambahkan bahwa pihak Rusia melakukan kontak dengan mereka yang tetap berada di wilayah pabrik. Pabrik benar-benar terisolasi, tidak ada pertempuran di sana.

Vladimir Putin menekankan bahwa Rusia terpaksa mengakui kemerdekaan Donetsk People’s Republic (DPR) dan Luhansk People’ Republic (LPR) di Ukraina timur, untuk menghentikan genosida penduduk lokal yang dilakukakan pemerintahan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky.

Vladimir Putin mempertanyakan, bagaimana bisa terjadi dengan Pemerintah Ukraina, milisi Ukraina didukung militer Ukraina, dibiarkan melakukan diskriminasi, dibiarkan melakukan genosida terhadap warga negara Ukraina yang berkomunikasi menggunakan Bahasa Rusia di Ukraina timur, terutama di wilayah Donbass.

Bagaimana bisa terjadi di Ukraina, sebuah pemerintahan yang sah, melakukan praktik Russophobia di dalam berbagai lini kehidupan, di antaranya secara sepihak menghapus mata ajar Bahasa Rusia dalam semua tingkatan pendidikan di Ukraina.

“Ini terjadi setelah Kiev menolak untuk mematuhi Perjanjian Minsk,” kata Vladimir Putin.

Padahal, Perjanjian Minsk, 2014, ditandatangani DPR, LPR, Rusia, The Organization for Security and Co-operation in Europe (OSCE), dan Ukraina.

Pada saat yang sama, pemimpin Rusia menarik perhatian pada fakta bahwa kedua republik merdeka dengan analogi dengan keputusan Mahkamah Internasional di Kosovo.

"Saya pribadi membaca semua dokumen Mahkamah Internasional tentang situasi di Kosovo.”

“Saya ingat betul keputusan Mahkamah Internasional, yang mengatakan bahwa dalam menjalankan hak untuk menentukan nasib sendiri, wilayah ini atau setiap negara tidak wajib mengajukan izin untuk menyatakan haknya kepada otoritas pusat negara.”

“Ini dikatakan tentang Kosovo, dan ini adalah keputusan Mahkamah Internasional Dan keputusan ini didukung oleh semua orang, pemimpin Rusia itu dikatakan.”

“Dalam hal ini, DPR dan LPR memiliki hak yang sama, karena praseden yang telah dibuat.

Moskow selalu siap untuk menyelesaikan konflik melalui diplomasi, dan para pihak mencapai terobosan signifikan pada pembicaraan di Istanbul, Turki, tanggal 29 Maret 2002,” kata Presiden Federasi Rusia, Vladimir Putin.

"Pada pembicaraan di Istanbul, dan saya tahu bahwa Anda hanya di sana, hari ini saya berbicara dengan Presiden Erdogan, kami berhasil mencapai terobosan yang cukup serius. Karena persyaratan keamanan - keamanan internasional Ukraina - rekan Ukraina kami tidak mengaitkan dengan konsep seperti perbatasan Ukraina yang diakui secara internasional, termasuk Krimea, Sevastopol dan Rusia di Donbass yang baru diakui, yah, dengan reservasi tertentu,” kata Vladimir Putin.

“Namun, kemudian Rusia menghadapi provokasi di Bucha, yang tidak ada hubungannya,” kata Vladimir Putin menekankan.

Setelah itu, ujar Vladimir Putin, posisi negosiator Ukraina berubah drastis.

"Mereka menjauh dari niat mereka sebelumnya dan mengesampingkan masalah jaminan keamanan, mengambil wilayah Krimea, Sevastopol dan Republik Donbass. Mereka menolaknya begitu saja," kata Vladimir Putin.

Menurut Vladimir Putin, tidak adanya keputusan atas poin-poin tersebut dalam kerangka setidaknya rancangan kesepakatan membuat tidak mungkin diselesaikan di tingkat kepala negara.

Meskipun demikian, Vladimir Putin, menekankan Kremlin mengharapkan untuk mencapai solusi di jalur diplomatik.

"Kami sedang berunding. Kami tidak menolak mereka," kata Presiden Federasi Rusia, Vldimir Putin.

Pemimpin Rusia itu menekankan bahwa Moskow siap bekerja sama dengan negara mana pun.

"Kita hidup di dunia yang kompleks, jadi kita melanjutkan dari fakta bahwa ada apa adanya. Kami siap bekerja dengan semua orang," kata Vladimir Putin.

Vladimir Putin, menyebut dasar untuk kesetaraan universal ini.

"Kami terkejut melihat beberapa pernyataan rekan-rekan kami tentang fakta bahwa seseorang di dunia luar biasa, mengklaim hak eksklusif, karena Piagam PBB menyatakan bahwa semua peserta dalam komunikasi internasional adalah sama satu sama lain - terlepas dari kekuatan, ukuran dan lokasi geografisnya,” ujar Vladimir Putin, Presiden Federasi Rusia.

“Saya pikir ini mirip dengan apa yang telah kita tulis dan munculkan dalam Alkitab: di sana semua orang adalah sama. Tentunya kita akan menemukan hal yang sama di dalam Alquran dan di dalam Taurat. Semua orang sama di hadapan Tuhan," ungkap Vldimir Putin, Presiden Federasi Rusia.

Pernyataan Antonio Guterres

Antonio Guterres, mengatakan, pertemuan dengan Vladimir Putin dan Sergey Lavrov,  dalam upaya untuk menemukan solusi damai untuk perang di Ukraina.

Antonio Guterres memaparkan tujuannya untuk pembicaraan dengan Lavrov dalam sebuah pidato sebelum pertemuan dimulai, melansir The National News, Selasa, 26 April 2022.

Antonio Guterres mengatakan kepada Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, bahwa PBB "sangat tertarik untuk menemukan cara untuk menciptakan kondisi untuk dialog yang efektif, menciptakan kondisi untuk gencatan senjata sesegera mungkin, dan menciptakan kondisi untuk solusi damai."

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres mengatakan diskusi mereka tentang krisis Ukraina telah "sangat jujur".

Antonio Guterres mengatakan prihatin dengan berbagai laporan tentang pelanggaran hak asasi manusia dan kemungkinan kejahatan perang yang dilakukan di Ukraina, mengatakan pertempuran untuk Donbas telah membawa "kematian dan kehancuran yang luar biasa" ke Ukraina timur.

Dikatakan Antonio Guterres, koridor kemanusiaan yang efektif sangat dibutuhkan untuk mengevakuasi warga sipil dari daerah yang terkena tembakan, dan menyerukan gencatan senjata.

"Semakin cepat perdamaian dibangun, semakin baik demi Ukraina, Rusia, dan dunia," kata Antonio Guterres.

Antonio Guterres mengakui perbedaan pendapat di Kiev dan Moskow, tetapi menunjukkan fakta, ada tank Rusia di Ukraina tetapi tidak ada tank Ukraina di Rusia.

Pernyataan Sergey Lavrov

Sergey Lavrov mengatakan situasi di Ukraina telah "menjadi katalis untuk sejumlah besar masalah", yang telah terakumulasi selama beberapa dekade terakhir di kawasan Eropa dan Atlantik.

Berbicara pada konferensi pers bersama setelah pertemuan, Sergey Lavrov, mengulangi tuduhan pemerintahnya, bahwa Pemerintah Kiev berusaha untuk melarang budaya dan bahasa Rusia, dan telah mempromosikan ideologi Nazi melalui undang-undang.

Sergey Lavrov, 'menuangkan air dingin' pada proposal Kiev untuk mengadakan pembicaraan damai di kota pelabuhan Ukraina Mariupol, mengatakan terlalu dini untuk berbicara tentang siapa yang akan menengahi setiap negosiasi.

Sergey Lavrov, mengatakan, Rusia berkomitmen untuk solusi diplomatik melalui pembicaraan di Ukraina, sementara menuduh pemerintah Kiev tidak serius tentang diskusi.

Rusia, menurut Sergey Lavrov, menggarisbawahi kembali, Moskow siap untuk bekerja sama dengan PBB untuk membantu warga sipil di Ukraina.

"Tujuan kami terutama untuk melindungi penduduk sipil dan di sini kami siap bekerja sama dengan rekan-rekan kami dari PBB, untuk meringankan penderitaan penduduk sipil," ujar Sergey Lavrov.*

Sumber: RIA Novosti/TASS Russian News Agency/Russia Today

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda