BENGKAYANG,SP- Pemerintah Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, mendorong Kelompok Wanita Tani (KWT) mengembangkan produk olahan berbasis hasil pertanian melalui peningkatan keterampilan pengolahan produk dan pemanfaatan pemasaran digital untuk memperkuat ekonomi keluarga serta meningkatkan daya saing UMKM perempuan.
Kepala Bidang Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bengkayang, Mutiara mengatakan, pengolahan hasil pertanian menjadi salah satu upaya meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal.
"Hasil pertanian yang selama ini dijual dalam bentuk segar dapat dikembangkan menjadi produk olahan dengan nilai jual lebih tinggi," ujarnya dalam dalam seminar dan workshop Kelompok Wanita Tani di Ruang Rapat Paripurna DPRD Bengkayang, Selasa.
Menurutnya, sejumlah komoditas yang berpotensi dikembangkan antara lain sayuran menjadi keripik dan sayuran kering, buah-buahan menjadi selai, jus dan manisan, serta singkong dan ubi menjadi keripik maupun tepung.
Pengembangan produk tersebut perlu disesuaikan dengan ketersediaan bahan baku, keterampilan anggota kelompok, kebutuhan pasar, dan kemampuan permodalan. Selain itu, kualitas produk, kebersihan proses pengolahan, kemasan, serta kelengkapan label harus menjadi perhatian agar produk mampu bersaing dan dipercaya konsumen.
Mutiara juga mendorong kelompok wanita tani meningkatkan kemampuan dalam mengelola usaha, termasuk menghitung biaya produksi, menentukan harga jual, melakukan pencatatan keuangan, dan membagi tugas antaranggota.
"Dengan pengelolaan yang baik, kegiatan kelompok diharapkan berkembang menjadi usaha produktif yang memberikan tambahan pendapatan," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, UKM, Transmigrasi dan Tenaga Kerja Kabupaten Bengkayang, Heni Juniarti, menekankan pentingnya digitalisasi untuk memperluas pemasaran produk UMKM perempuan tani.
Menurut pemasaran digital dapat membantu petani dan pelaku usaha menjangkau konsumen secara langsung sehingga mengurangi ketergantungan terhadap perantara.
" Selama ini keterbatasan informasi pasar dan posisi tawar yang lemah kerap membuat petani kesulitan memperoleh harga yang lebih baik," ujarnya.
Dia juga mendorong agar pelaku usaha memanfaatkan WhatsApp Business, Facebook, Instagram, dan platform penjualan daring untuk mempromosikan produk, membuat katalog, menerima pesanan, hingga membangun jaringan pelanggan.
"Penggunaan QRIS juga dapat memudahkan transaksi pembayaran," ujar ya.
Selain memanfaatkan teknologi, UMKM perempuan tani perlu memperkuat identitas produk melalui merek, kemasan, foto produk, dan informasi yang jelas. Promosi dapat dilakukan dengan menampilkan cerita proses produksi, testimoni pelanggan, serta sistem pemesanan awal atau prapesan.
Pengembangan pemasaran digital juga perlu dilakukan secara bertahap, mulai dari membangun kehadiran usaha di platform digital, menyediakan layanan penjualan daring, hingga memanfaatkan teknologi untuk mengelola stok, keuangan, dan data pelanggan.(nar)